Kekejaman Moral dalam Derita dan Kematian Anak-anak Aleppo

Arpan Rahman    •    Rabu, 23 Nov 2016 14:33 WIB
krisis suriah
Kekejaman Moral dalam Derita dan Kematian Anak-anak Aleppo
Anak-anak di Suriah terancam kelaparan akibat perang (Foto: AFP).

Metrotvnews.com, Aleppo: Save the Children mengecam "kebiadaban moral" atas kematian dan penderitaan anak-anak di medan perang kota Aleppo, Suriah. Kecaman terlontar dalam sebuah pernyataan yang dirilis, Rabu 23 November.
 
Menurut badan amal itu para petugas medis di barat laut Suriah sedang mencari cara untuk membentengi rumah-rumah sakit setelah gelombang serangan di kawasan Aleppo timur yang dikuasai pemberontak. Alhasil, pusat-pusat fasilitas medis terus berkutat merawat anak-anak yang terluka.
 
Dilansir Al Arabiya dari AFP, Rabu (23/11/2016), pasukan rezim telah melancarkan serangan dahsyat di Aleppo timur sejak 15 November. Pemantau Syrian Observatory for Human Rights (SOHR) mengatakan, lebih dari 140 warga sipil telah tewas, 19 di antaranya anak-anak.


Anak-anak di Aleppo di tengah pergolakan (Foto: AFP).


 
Pertempuran terbaru bergolak di tengah kekhawatiran internasional atas nasib lebih dari 250.000 warga sipil yang terperangkap dalam kawasan pendudukan pemberontak yang terkepung di utara kota.
 
Save the Children juga mengutuk serangan pemberontak di Aleppo barat yang menewaskan sedikitnya delapan anak, Minggu 20 November.
 
Dikatakan, di antara mereka yang tewas pada akhir pekan adalah seorang guru perempuan yang bekerja pada sebuah sekolah di Aleppo timur. Jasadnya ditemukan terkubur di reruntuhan bersama bayi laki-lakinya.
 
Kelas yang dibuka dalam 13 sekolah di Aleppo timur telah ditutup mana kala tembak-menembak makin intensif selama beberapa hari terakhir, menurut Save the Children.
 
Dikatakan, serangan pemberontak mematikan di satu sekolah di sebelah barat kota menunjukkan "tidak ada tempat yang aman bagi anak-anak dalam konflik ini."


Bocah Suriah yang dirawat akibat pertempuran (Foto: AFP).

 

 
"Anak-anak dan pekerja bantuan dibombardir dengan rudal saat mereka duduk di meja mereka di sekolah-sekolah dan mencari pengobatan ke rumah-rumah sakit yang juga diserang," kata Direktur Suriah untuk Save the Children, Sonia Khush.
 
"Tempat-tempat yang seharusnya mereka merasa sangat aman telah menjadi tempat yang mematikan," imbuhnya.
 
"Ini adalah kekejaman moral karena angka kematian anak-anak Aleppo terus meningkat dan tampaknya hanya diatur untuk menjadi lebih buruk, sementara tindakan yang diambil begitu sedikit buat mengakhiri pengeboman. Semua  pihak yang terus berperang bertanggung jawab atas berbagai serangan terhadap warga sipil," tutur Khush.


Anak-anak di samping truk milik sebuah badan amal internasional (Foto: AFP).

 
Save the Children menyerukan gencatan senjata dipantau secara internasional demi menjamin bantuan kemanusiaan ke Aleppo timur dan mengevakuasi warga yang sakit dan terluka.
 
Dikatakan bahwa PBB dan kelompok-kelompok oposisi telah menyetujui akses bagi konvoi bantuan untuk lewat setelah semua pihak menyepakati gencatan senjata.
 
"Pihak yang berkonflik harus bersama-sama menyetujui gencatan senjata segera, dan untuk mengevakuasi korban sipil serta mengizinkan bantuan pertolongan masuk ke daerah ini," katanya.
 
Utusan PBB untuk Suriah, Staffan de Mistura, telah ditolak dengan kasar di Damaskus, pada Minggu, saat menyerahkan proposal gencatan senjata yang akan membebaskan pihak oposisi mengelola kawasan timur kota.
 
Aleppo pernah jadi lokomotif ekonomi negara, tetapi telah hancur akibat perang brutal di Suriah yang menewaskan 300.000 orang sejak dimulai dengan protes anti-pemerintah pada Maret 2011.

 

 


(FJR)