Australia Bantah Laporan Penyiksaan di Nauru

Willy Haryono    •    Selasa, 18 Oct 2016 17:48 WIB
imigran gelap
Australia Bantah Laporan Penyiksaan di Nauru
Pendemo di Sydney mendesak pemerintah Australia menerima para pencari suaka yang ditahan di kamp detensi Nauru. (Foto: Getty)

Metrotvnews.com, Canberra: Australia membantah sebuah laporan hak asasi manusia yang membandingkan kamp detensi pencari suaka di Nauru dengan sebuah penjara tanpa atap. 

Selama ini, Australia mengirim para pencari suaka yang datang dengan kapal ke Nauru dan Papua Nugini. Laporan organisasi Amnesty International menyebutkan bahwa aksi Australia itu adalah "sebuah kebijakan disengaja untuk melukai para pencari suaka." 

Negeri Kanguru menegaskan kebijakan mengirim pencari suaka ke kamp detensi diperlukan agar tidak ada lagi orang-orang yang tewas di laut dalam rangka mencapai Australia.

Dalam laporan berjudul Pulau Keputusasaan, Amnesty menyebut banyak pencari suaka yang mencoba bunuh diri karena buruknya kondisi di kamp detensi

"Kebijakan pemerintah Australia yang diklaim sebagai sebuah kesuksesan adalah sebuah kebijakan kejam," tulis Amnesty, seperti dikutip BBC, Selasa (18/10/2016). 

"Australia menjadi dikenal sebagai negara yang akan melakukan apapun untuk memastikan para pencari suaka tidak mencapai wilayah mereka dan menghukum siapapun yang berani mencobanya," lanjut laporan itu. 

Perdana Menteri Australia Malcolm Turnbull membantah keras laporan Amnesty. "Itu tidak benar. Komitmen pemerintah Australia didasari rasa belas kasih," tegas Turnbull ke Australia Broadcasting Corp

Sekitar 750 orang yang berusaha mencari suaka ke Australia saat ini tinggal di Nauru bersama 10 ribu warga lokal. 


Anak-anak pencari suaka di Nauru. (Foto: Reuters)

Pemerintah Nauru belum merespons laporan Amnesty. Dalam laporan serupa yang dibuat media ABC, disebutkan anak-anak pencari suaka terlalu takut untuk bersekolah di Nauru karena tingginya tingkat kekerasan dan pelecehan seksual oleh warga lokal. 

Otoritas Nauru menuduh anak-anak dalam laporan ABC telah diminta untuk mengatakan kalimat tertentu yang sudah disiapkan sebelumnya. ABC mengatakan laporannya adalah "sebuah cerita penting yang memperlihatkan hal nyata."

Pada Agustus, surat kabar Guardian merilis lebih dari 2.000 bocoran laporan dari pusat detensi di Nauru. Laporan tersebut menguak banyaknya kasus pelecehan di kalangan wanita dan anak-anak di Nauru. Pemerintah Australia mengatakan banyak dari laporan itu belum dapat dikonfirmasi kebenarannya.


(WIL)

BDF IX Berakhir, Demokrasi Masih Hadapi Banyak Tantangan

BDF IX Berakhir, Demokrasi Masih Hadapi Banyak Tantangan

22 hours Ago

Bali Democracy Forum (BDF) IX resmi ditutup. Sejak pertama kali diadakan pada 2008, tingkat keikutsertaan…

BERITA LAINNYA