Protes Maut Anti Joseph Kabila Tewaskan Warga Kongo

Arpan Rahman    •    Senin, 22 Jan 2018 15:05 WIB
konflik kongo
Protes Maut Anti Joseph Kabila Tewaskan Warga Kongo
Aksi protes menentang Presiden Joseph Kabila di Kongo (Foto: AFP).

Kinshasa: Para pedemo turun ke jalan-jalan raya di Kinshasa. Mereka menuntut Presiden Joseph Kabila turun. 
 
Polisi menembakkan amunisi dan gas air mata ke demonstran yang bergerak membelah jalanan setelah kebaktian gereja.
 
Sedikitnya enam orang tewas, Sebanyak 49 lainnya terluka. Pasukan keamanan Kongo menembaki demonstran yang menuntut penggulingan Presiden Joseph Kabila, yang telah amat lama berkuasa di ibukota Kinshasa, menurut misi penjaga perdamaian PBB pada Minggu 21 Januari 2018.
 
Polisi melontarkan amunisi dan gas air mata. Tujuannya membubarkan demonstran anti-pemerintah, yang turun ke jalan usai mengikuti kebaktian gereja.
 
Demonstrasi terjadi di seantero pelosok negeri, termasuk Goma dan Lubumbashi. Mereka menuntut copotnya Presiden Josef Kabila, yang sudah berkuasa selama 17 tahun.
 
MONUSCO, misi penjaga perdamaian PBB di negara tersebut, mengatakan 94 orang ditangkap secara nasional selama bentrokan.
 
Seorang gadis berusia 16 tahun jadi korban pertama. Dia ditembak fatal saat keluar dari sebuah gereja di kawasan Kitambo di ibu kota, menurut Jean-Baptise Sondji, dokter dan mantan menteri yang sekarang menjadi seteru  pemerintah.
 
"Sebuah mobil berlapis baja lewat di depan gereja. Mereka mulai menembaki peluru hidup, saya melindungi diri saya sendiri," kata Sondji melalui telepon.
 
"Seorang gadis yang berada di pintu sebelah kiri gereja terkena peluru," cetusnya, seperti dikutip Deutsche Welle, Senin 22 Januari 2018. Ia menambahkan bahwa korban sudah meninggal saat dibawa dengan taksi ke rumah sakit. Dia katakan anggota Palang Merah mengkonfirmasi kematian gadis itu.
 
Misi pemelihara perdamaian PBB MONUSCO juga melaporkan satu orang tewas di wilayah yang sama. Dikatakan bahwa korban adalah seorang pria.
 
Ketegangan juga dirasakan berlangsung mencekam di kota-kota besar Kisangani, Lubumbashi, Goma, Beni, dan Mbuji Mayi.
 
Orang-orang makin marah kepada Kabila karena menolak mundur saat masa jabatannya berakhir pada Desember 2016. Para demonstran telah berulang kali turun ke jalan sejak saat itu dan sejumlah korban telah terbunuh.
 
Protes tersebut telah memberkati banyak kelompok pemberontak bersenjata di pedalaman. Memicu kekhawatiran negara tersebut, yang kaya akan sumber daya mineral, dapat tergelincir kembali ke dalam perang sipil yang mematikan. Perang saudara menyebabkan jutaan orang meninggal pada 1990an, terutama karena kelaparan dan penyakit.
 
"Saya berbaris hari ini karena alasan sederhana: Saya ingin membesarkan anak-anak saya di negara yang menghormati hak asasi manusia," kata demonstran Pascal Kabeya, pedagang pasar berusia 40 tahun. Ia berseru di tengah ratusan demonstran di sebuah kota, pinggiran Kinshasa.



(FJR)