Gencatan Senjata Gagal, Pemerintah Suriah Lancarkan Serangan

Arpan Rahman    •    Jumat, 23 Sep 2016 17:42 WIB
krisis suriah
Gencatan Senjata Gagal, Pemerintah Suriah Lancarkan Serangan
Gencatan senjata gagal, pasukan pemerintah kembali lancarkan serangan ke pemberontak (Foto: AFP)

Metrotvnews.com, Aleppo: Suriah mengumumkan serangan baru ke wilayah yang dikuasai pemberontak di Aleppo pada Kamis 22 September. Sementara para diplomat di New York yang ditengahi oleh Amerika Serikat (AS) dan Rusia gagal menemukan cara untuk memberlakukan kembali gencatan senjata yang bobol, pekan ini.
 
Seperti dikutip France24 dengan AFP dan Reuters, pesawat-pesawat tempur telah berbulan-bulan melakukan serangan udara berat atas distrik yang dikuasai pemberontak di pusat perdagangan dan kota terbesar Suriah. Pada awalnya, gencatan senjata, menyuguhkan angin segar sebagai upaya untuk mengakhiri perang sipil Suriah yang telah berlangsung sejak 2011.
 
Namun setelah kesepakatan gagal, pemimpin pemberontak dan tim penyelamat mengatakan, bom-bom mulai menghujani Aleppo. Hamza al-Khatib, direktur rumah sakit di timur yang dikuasai pemberontak, mengungkapkan kepada Reuters, 45 orang tewas.
 
"Seolah-olah pesawat mencoba untuk memuntahkan semuanya setelah berhari-hari mereka tidak menjatuhkan bom selama gencatan senjata," kata Kepala layanan keselamatan pertahanan sipil di markas-oposisi di Aleppo timur Ammar al-Selmo, seperti dikutip Reuters, Jumat (23/9/2016).


Kehancuran akibat serangan di Suriah (Foto: AFP)

 
Moskow dan Washington mengumumkan gencatan senjata pada 9 September. Tapi perjanjian itu runtuh, seperti semua upaya sebelumnya untuk menghentikan perang lebih dari lima tahun yang telah menewaskan ratusan ribu warga Suriah dan membuat setengah warga bangsa ini ketinggalan tempat tinggal.
 
Wilayah Aleppo yang dikuasai pemberontak dilanda kebakaran skala besar pada malam setelah pengeboman. Penyulut api adalah apa yang disebut kalangan aktivis sebagai bom fosfor.
 
Diperkirakan 250.000 penduduk Aleppo timur, yang diduduki pemberontak sejak 2012, hidup di bawah pengepungan sejak awal September.
 
Media pemerintah Suriah mengumumkan serangan baru dan diteruskan oleh markas militer tentara di Aleppo yang mendesak warga sipil di bagian timur kota itu untuk menghindari daerah-daerah di mana teroris berada. Militer mengatakan telah menyiapkan jalan keluar bagi mereka yang ingin melarikan diri, termasuk para pemberontak.
 
Serangan udara dari pesawat tempur pemerintah Suriah, sekutunya Rusia atau gabungan keduanya, mengisyaratkan Moskow dan Damaskus telah menolak permohonan Menteri Luar Negeri AS John Kerry untuk menghentikan penerbangan begitu bantuan dapat dikirim dan gencatan senjata dipulihkan.
 
Dalam perdebatan keras yang disiarkan televisi menghadapi Menteri Luar Negeri Rusia Sergei Lavrov di PBB pada Rabu 21 September, Kerry berkata, menghentikan pengeboman itu adalah kesempatan terakhir untuk mencari jalan "keluar dari pembantaian".
 
Tapi Presiden Suriah Bashar al-Assad mengindikasikan dirinya tidak melihat ada cara yang cepat untuk mengakhiri perang. Al-Assad menyebut serangan akan "jalan terus" selama pertempuran itu menjadi bagian dari konflik global di mana para teroris didukung oleh Arab Saudi, Qatar, Turki, dan Amerika Serikat.
 
Kesepakatan gencatan senjata, yang mulai berlaku pada 12 September, menderita dua pukulan pada pekan terakhir. 
 
Sabtu 17 September, koalisi pimpinan AS yang memerangi kelompok militan Islamic State (ISIS) melakukan serangan udara mematikan terhadap tentara pemerintah Suriah, yang kemudian dikatakan Washington sebagai kesalahan.
 
Senin 19 September, gencatan senjata kandas lagi karena serangan atas sebuah konvoi bantuan yang menewaskan sekitar 20 orang dan Washington menyalahkan pesawat Rusia. Pemerintah Rusia membantah terlibat. Sementara pada pertemuan di sela-sela Sidang Majelis Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) yang membahas krisis Suriah 22 September, akhirnya bubar tanpa satu kesepakatan pun. Tak ada kesepakatan yang dibangun tentang cara untuk menghidupkan kembali gencatan senjata di Suriah yang terbilang gagal.

Menteri Luar Negeri Amerika Serikat, John Kerry mengatakan bahwa Rusia belum bisa menjanjikan apapun ke Suriah untuk menghentikan pengeboman. 

 



(FJR)