Anak-anak Irak Membuang Buku Ajaran Kekerasan ISIS

Arpan Rahman    •    Jumat, 18 Nov 2016 20:03 WIB
isis
Anak-anak Irak Membuang Buku Ajaran Kekerasan ISIS
Anak-anak di Irak kembali belajar (Foto: Reuters).

Metrotvnews.com, Qayyara: Dinding sekolah itu berlapis cat basah dan ruang kelas penuh sesak. Butuh waktu lebih lama memperbaiki kerusakan sampai selesai. Ribuan anak-anak Irak telah hidup di bawah kendali kelompok militan Islamic State (ISIS) selama dua tahun lebih.
 
Meskipun sekolah resmi dimulai pada September silam, hanya pekan ini murid-murid di kota utara Qayyara telah dibagikan kembali buku-buku teks standar Irak. Bahan bacaan sempat digantikan militan dengan terbitan mereka sendiri dalam upaya mencuci otak satu generasi.
 
ISIS diusir dari kota itu, tiga bulan lalu. Tepatnya pada tahap awal kampanye merebut kembali Mosul. Mosul yang terletak sekitar 60 km di utara Qayyara kini di bawah serangan pasukan keamanan Irak didukung koalisi pimpinan Amerika Serikat (AS).


Seorang anak yang berada di dalam kelas (Foto: Reuters).
 
 
Sewaktu ISIS yang memproklamirkan khalifah mulai terkikis, suatu gambaran lebih jelas muncul mengenai proyek kelompok militan itu dan meninggalkan bekas abadi pada siapapun yang masih hidup.
 
"Kami senang bisa kembali ke sekolah," kata Iman, delapan tahun, seperti dilansir Reuters, Jumat (18/11/2016). Seperti kebanyakan teman-teman sekelasnya, dia berhenti sekolah setelah ISIS berkuasa. 
 
"Mereka ingin kami sekolah tapi kami tidak mau karena kami tidak tahu bagaimana belajar dalam bahasa mereka, bahasa kekerasan," ucapnya.
 
Ketika gerilyawan menguasai wilayah tersebut pada musim panas 2014, mereka memperbolehkan sekolah berjalan seperti biasa, menurut penduduk setempat. 
 
Tapi lantas mereka melarang pelajaran yang mereka anggap tidak Islami seperti geografi, sejarah, pendidikan kewarganegaraan, dan memanfaatkan murid laki-laki sebagai sasaran perekrutan.
 
Tahun ajaran berikutnya, dimulai pada 2015, ISIS memberlakukan kurikulum yang sama sekali baru buat menanamkan anak dengan ideologi mereka. Latihan matematika dinyatakan dalam senjata dan amunisi: "satu peluru ditambah dua peluru sama dengan berapa peluru?"
 
Pada saat itu, kebanyakan orangtua berhenti mengirimkan anak-anak mereka ke sekolah, dan banyak murid yang cukup umur memutuskan keluar sekolah secara sukarela.
 
Akibatnya, sebagian besar anak-anak telah diatur ulang pada dua kelas, dan karena beberapa guru telah mengungsi lantaran kekerasan, hanya ada satu guru untuk kira-kira setiap 80 murid di sekolah putri di Qayyara.
 
"Mereka telah melupakan pelajaran mereka. Sekarang kami mengingatkan mereka," kata guru mereka, Maha Nadhem Kadhem. Ia mondar-mandir di kelas, empat gadis kecil berdesakan di setiap bangku yang aslinya dibuat untuk dua orang saja. 
 
"Kami tidak mau mereka jadi buta huruf dan bodoh," tegasnya.
 
Kepala sekolah, yang minta tidak disebutkan namanya, berkata, wakil pasukan ISIS yang dikenal sebagai Hisbah telah berkunjung rutin ke sekolah itu. Hisbah memastikan kepatuhan terhadap kelompok militan dengan aturan ketat cara berpakaian bagi perempuan dan anak gadis.
Anak-anak  di Irak mulai sekolah (Foto: Reuters).
 
 
Farouq Mahjoub, asisten kepala sekolah di SMP putra di Qayyara, mengatakan dirinya telah diancam hukuman mati kecuali dia kembali bekerja, meskipun akhirnya tidak ada murid datang ke kelas.
 
"Dampak terbesar ada pada anak-anak," kata Mahjoub, yang sekolahnya terkena serangan udara, beberapa bulan lalu. "Anak-anak mudah dibentuk, Anda dapat mengubah pendapat dan keyakinan mereka dengan cepat," tutur Mahjoub.
 
Mahjoub mengaku anak-anak berperilaku lebih agresif dari sebelumnya. Permainan yang mereka mainkan sekarang berbentuk kekerasan. Ia memperkirakan, makan waktu tidak kurang dari lima tahun untuk membalikkan kerusakan itu, bahkan jika rencana merehabilitasi mereka telah berlaku.
 
Ikut menghilang dari ruang kelas di sekolah putri, puluhan murid perempuan yang saudara laki-lakinya dikaitkan dengan ISIS dan tidak lagi diterima di Qayyara. Mahjoub mengatakan, sekitar 10 siswanya sendiri telah bergabung dengan militan.
 
Di belakang sekolah, tersebar sisa-sisa bom mobil yang belum dibersihkan. Langit gelap dengan asap dari sumur minyak yang dibakar militan, sehingga sulit bernapas dan mengubah kambing jadi lebih hitam.
 
Di jalan di dekat situ, sekelompok anak laki-laki terbatuk-batuk kena asap -- apa yang sudah mereka lihat di bawah kekuasan ISIS, termasuk mayat-mayat musuh digantung di tempat umum sebagai peringatan membuat yang lain jera.
 
Tarian dan nyanyian lagu-lagu Irak yang patriotik membahana dari konvoi militer yang lewat. Thamer, 11 tahun, berhenti sejenak, untuk  menjelaskan bagaimana anggota ISIS setempat yang bernama Abu Suleiman telah digantung setelah pasukan Irak merebut kembali kota ini.
 
"Otak dan jantung manusia tumpah keluar dari tubuhnya," kata Thamer dengan nada tinggi: "Mereka balas dendam sama dia. Itu cocok. Kami senang sekali," katanya.



(FJR)

Hasil Referendum Italia dan Hubungannya dengan Uni Eropa

Hasil Referendum Italia dan Hubungannya dengan Uni Eropa

1 day Ago

Perdana Menteri Italia Metteo Renzi mundur dari jabatannya setelah gagal menang dalam referendum…

BERITA LAINNYA