Salah Pangkas, Tukang Cukur Dipenjara oleh ISIS

Arpan Rahman    •    Sabtu, 19 Nov 2016 12:53 WIB
isis
Salah Pangkas, Tukang Cukur Dipenjara oleh ISIS
ilustrasi: AFP

Metrotvnews.com, Mosul: Saat kelompok militan Islamic State (ISIS) muncul di Mosul, Irak, warga terpaksa mengubah cara hidup mereka. ISIS mengatur mereka berpakaian, dan bahkan bagaimana mereka memotong rambut militan.
 
Itu kabar buruk bagi tukang cukur seperti Muhammad seperti disitat Public Radio International, Jumat (18/11/2016).
 
"Usaha jadi lesu. Orang mulai memangkas rambut di rumah mereka sendiri. Rambut suami dipotong oleh istri," kata Muhammad, yang tinggal di kawasan Samah di timur kota Mosul sebelum melarikan diri, sepekan silam. Dia sekarang hidup di sebuah kamp untuk pengungsi di Khazir, sebelah timur Mosul. 
 
ISIS melarang potongan rambut "gaya Barat" dan anggota pasukan laki-laki wajib menumbuhkan jenggot mereka. Bahkan, di luar soal rambut, ada yang menunjukkan, apa yang dianggap ISIS tanda pengaruh Barat dalam gaya hidup mereka akan menjadi bahaya.
 
Sebelum kelompok militan menyapu kota itu pada Juni 2014, Moslawis -- sebutan penduduk Mosul -- tidak takut bereksperimen dengan tatanan rambut mereka.
 
"Beberapa orang menulis nama mereka di belakang kepala mereka, yang lain memilin jenggot," kata Muhammad.
 
Tapi ketika satu-satunya pilihan potongan rambut adalah "gondrong, tidak boleh pendek," orang tidak butuh tukang cukur lagi.
 
Dari semua kengerian atas mereka yang hidup di bawah kekuasaan ISIS, pembatasan soal merawat rambut mungkin bisa bikin gatal kepala. Tapi bagi Muhammad -- lelaki di pertengahan dua puluhan, yang sekarang memamerkan jenggot halus terawat dan potongan rambut sikat ke atas dan ke belakang dari dahi -- kedua ciri itu menempatkan hidupnya dalam bahaya.
 
"Saya ditangkap ISIS karena gaya rambut yang berbeda," kata Muhammad, sambil mendorong poninya ke atas, menunjukkan bagaimana ia melakukannya.
 
Beberapa hari setelah memangkas rambut, seorang pejuang ISIS melihat pelanggan di jalan dan bertanya siapa yang memotong rambutnya. Mereka membawanya ke kedai cukur Muhammad dan menuntut jawaban. Para militan mencukur gundul rambut Muhammad dan mendudukkannya ke depan seorang hakim ISIS.
 
"Dia bertanya apa kejahatan saya," kata Muhammad. "Saya bilang, mencukur rambut." Muhammad pun dikirim ke penjara, bersama pelanggan yang rambutnya ia pangkas.
 
"Mereka tidak memberitahu Anda ketika Anda akan dibebaskan; (hakim) hanya melempar Anda di penjara," katanya. "Malam-malam, mereka datang dan membawa Anda keluar. Anda akan dipukuli dan dicambuk."
 
Muhammad ditahan selama sepekan sebelum dilepaskan. Dia bukan satu-satunya tukang cukur yang menerima hukuman dengan kesalahan menata rambut.
 
Pada September, Irak News melaporkan, 14 tukang cukur dicambuk di depan umum sebab "melanggar standar ideologis organisasi."
 
Bagi banyak pelarian dari Mosul, kesempatan membuat potongan rambut yang layak dan bercukur lagi setelah dua tahun rambut tumbuh panjang bagaikan sebuah pertolongan yang muncul saat malapetaka. Pesanan pelanggan untuk potongan rambut yang baik di kamp-kamp yang menampung bekas penduduk Mosul begitu tinggi, sehingga kawanan tukang cukur telah berbondong-bondong datang dari kota terdekat, Erbil, demi membantu.
 
Kamp Khazir, di mana Muhammad kini berteduh setelah minggat dari Mosul, secara perlahan mulai terisi penuh penghuni.
 
Serangan merebut kembali Mosul kubu ISIS mulai sebulan silam, tentara Irak dan Peshmerga Kurdi memimpin laga. Sekitar 100 prajurit Amerika Serikat berjuang bersama kedua pasukan di garis depan, dan 5.000 lebih personel AS di Irak dalam peran pendukung aksi.
 
Koalisi ini maju cepat merebut kembali desa-desa dan kota-kota sekitar Mosul. Tapi tatkala pertempuran merayap lebih dekat ke kota itu sendiri, mereka menghadapi perlawanan sengit dari para pejuang ISIS. Pertempuran di daerah yang lebih banyak penduduknya berarti lebih banyak orang yang melarikan diri dan datang ke kamp-kamp seperti Khazir.
 
Lebih dari 50.000 orang telah meninggalkan rumah mereka akibat pertempuran di dan sekitar Mosul sejak 17 Oktober, menurut PBB. Sekitar 15.000 dari mereka kini tinggal di kamp Khazir, di bawah naungan tenda-tenda centang-perenang dan semrawut. Orang-orang itu berbaris sepanjang hari untuk menerima jatah air dan makanan.



(FJR)