Upaya Kudeta di Libya, Kubu Seteru Rebut Pusat Pemerintahan

Arpan Rahman    •    Sabtu, 15 Oct 2016 17:47 WIB
konflik libya
Upaya Kudeta di Libya, Kubu Seteru Rebut Pusat Pemerintahan
Tank milik pasukan Government of National Accord (Foto: AFP)

Metrotvnews.com, Tripoli: Pemerintah persatuan Libya yang didukung PBB menderita pukulan di basisnya, Tripoli, Jumat 14 Oktober. Kubu seteru merebut pusat pemerintahan di ibukota dan memproklamirkan pemulihan pemerintahan sebelumnya.
 
Pemerintah Persatuan Nasional (Government of National Accord/GNA) yang didukung Barat berharap membendung meningkatnya jihad di negara Afrika Utara itu dan menyetop perdagangan manusia lintas Mediterania yang telah menyebabkan ribuan orang tenggelam.
 
GNA dibentuk untuk menggantikan dualisme pemerintahan, satu di Tripoli dan satu di wilayah timur Cyrenaica. Tapi, pada Jumat, mantan kepala pemerintahan yang berbasis di Tripoli, Pemerintahan Pembebasan Nasional (Government of National Salvation), Khalifa Ghweil, menyatakan berfungsinya kembali kantor badan konsultatif kunci dari GNA.
 
"Kami tidak pernah menerima legitimasi pemerintah yang didukung PBB, mengambil alih pemerintahan di Tripoli, pada April lalu," ujar Ghweil, seperti dikutip Daily Mail, Sabtu (15/10/2016).
 
Dia dikenakan sanksi internasional, yang diperbarui oleh Uni Eropa bulan lalu. Dalam pernyataannya, ia menyatakan semua anggota GNA "diskors dari tugasnya".
 
Pemerintah yang didukung PBB membuat tindakan balasan dengan pernyataan mengancam buat menangkap "para politikus yang berupaya untuk menciptakan lembaga paralel dan mengguncang ibukota."
 
Pernyataan itu mengutuk upaya yang mereka sebut menyabotase kesepakatan politik yang ditengahi oleh PBB pada Desember lalu dan mengecam perebutan Dewan Negara yang dibangun oleh sebuah kelompok bersenjata.
 
Kekacauan berkepanjangan telah menyusahkan upaya Barat untuk memerangi laskar jihad yang muncul di Libya, yang telah menjadi pelantar serangan mematikan terhadap para turis yang berlibur di negara tetangga Tunisia.
 
Wilayah Tripolitania barat telah menjadi kubu utama GNA. Otoritas di Cyrenaica masih menolak untuk menyerahkan kekuasaan, ditunjang oleh dukungan milisi bersenjata lengkap dari penguasa militer kontroversial, Field Marshal Khalifa Haftar.
 
Libya memiliki dualisme parlemen, keduanya dipilih sejak penggulingan yang didukung NATO terhadap diktator kawakan Moamer Kadhafi pada 2011.
 
Pemilu pertama pada 2012, didominasi oleh kelompok Islamis. Mereka yang ditunjuk memerintah Tripoli.
Kedua, pemilu pada 2014, tidak dikontrol oleh kelompok Islam tetapi dikotori oleh keputusan pengadilan kontroversial yang menyatakan pemilu itu tidak sah. Mereka yang menang kemudian memerintah berbasis Cyrenaica.
 
Mayoritas anggota parlemen mengeluarkan pernyataan yang mengungkapkan dukungan bagi pemerintah yang direstui PBB. Banyak dari mereka mengatakan, telah dipaksa tidak memberi suara formal di pengesahan sebagaimana diatur dalam rencana PBB.
 
Dalam sebuah tindakan hati-hati, PBB sudah membuat rencana parlemen hasil pemilu 2014 menjadi badan legislatif tunggal. Tetapi ternyata sebagian besar anggota parlemen 2012 dalam badan mandat konsultatif, Dewan Negara, telah menyerbu pada hari Jumat.
 
Perebutan kekuasaan meletus jadi konflik bersenjata bulan lalu ketika pendukung utama pemerintahan Haftar dari Cyrenaica menyita empat pelabuhan ekspor minyak utama di wilayah timur.
 
Dia mengeksploitasi ketiadaan para pejuang yang setia kepada pemerintah yang didukung PBB. Para pejuang itu sibuk memerangi ISIS di sebelah barat kota Sirte dengan dukungan pesawat dari Amerika Serikat.



(FJR)

Hasil Referendum Italia dan Hubungannya dengan Uni Eropa

Hasil Referendum Italia dan Hubungannya dengan Uni Eropa

1 day Ago

Perdana Menteri Italia Metteo Renzi mundur dari jabatannya setelah gagal menang dalam referendum…

BERITA LAINNYA