Sejak 2003 Dihancurkan, Desa di Irak Kembali Punya Sekolah

Fachri Audhia Hafiez    •    Rabu, 18 Apr 2018 06:23 WIB
konflik irak
Sejak 2003 Dihancurkan, Desa di Irak Kembali Punya Sekolah
Sebuah desa bernama Az-Zuhoor di Irak kembali memiliki sekolah dasar setelah hampir 14 tahun pasca dihancurkan oleh kelompok garis keras. REUTERS / Alaa Al-Marjani

Irak: Sebuah desa bernama Az-Zuhoor di Irak akhirnya kembali memiliki sekolah dasar setelah hampir 14 tahun pasca dihancurkan oleh kelompok garis keras. Sekolah tersebut kini kembali diisi kegiatan belajar mengajar.

Berdirinya kembali sekolah tersebut atas bantuan dana anak-anak Perserikatan Bangsa-Bangsa UNICEF. Bantuan itu terkumpul berkat pegiat warga di Facebook berjuluk 'Saya Manusia'. 

Seperti dilansir Antara, sekolah itu kini memiliki 27 siswa berusia enam hingga 10 tahun dan seorang kepala sekolah serta dua guru. Sekolah itu terdiri atas sekelompok karavan, yang disediakan UNICEF di pinggiran wilayah Az-Zuhoor.

Kepala sekolah Qassim Abbas Jassim juga menyatakan sekolah dan desa Az-Zuhoor menderita kekurangan listrik dan air layak minum.

Sekolah dasar dan klinik di desa itu tidak memiliki layanan dasar. Dibangun oleh pemerintah Saddam Hussein dan rusak dalam serangan mortir terhadap desa tersebut pada akhir 2003 saat serbuan pimpinan Amerika Serikat menggulingkan Saddam.

Az-Zuhoor dikenal secara lokal sebagai Desa Gipsi, tertetak 150 kilometer selatan Kota Baghdad. Sekitar 420 orang tinggal di rumah lumpur dan gubuk buluh berjajar di jalan tidak beraspal. Suku kecil Kawliya di Irak, juga dikenal sebagai Gipsi negara itu, sejak lama dipinggirkan oleh masyarakat.

Kawliya hampir tidak diterima oleh masyarakat lain dan hidup dalam keadaan yang berbahaya. Mereka juga diakui kurang pendidikan dan keterampilan.

Kondisi itu membuat Kawliya mendapat status rendah dari pranata masyarakat Irak. Mereka juga tidak diberikan kewarganegaraan Irak.

Manar al-Zubaidi, wakil kelompok 'Saya Manusia', selama setahun melobi untuk pembangunan sekolah itu. Dia mendesak pemerintah memberikan kewarganegaraan kepada Kawliya.

"Hal itu untuk membantu anak-anak mereka melanjutkan sekolah dan mendapatkan pekerjaan," kata Manar.

Saat pemerintahan Saddam, Kawliya mendapatkan perlindungan dari sejumlah penganiyaan, dipaksa menjadi penari, minum alkohol dan pelacur. Namun, kala penggulingan Saddam, perlindungan itu hilang dan membuat mereka rentan terhadap aksi kelompok garis keras yang membenci Kawliya.

Kawliya berbicara dalam bahasa Arab dan menganut agama Islam. Mereka juga mengaku berasal dari India, meskipun beberapa dari mereka berasal dari negara lain di Timur Tengah.


(DEN)