Mahasiswa Sebut Sosok Robert Mugabe seperti Iblis

Arpan Rahman    •    Sabtu, 11 Nov 2017 09:09 WIB
zimbabwe
Mahasiswa Sebut Sosok Robert Mugabe seperti Iblis
Presiden Zimbabwe Robert Mugabe bersama istrinya, Grace (Foto: AFP).

Harare: Seorang pemimpin mahasiswa Zimbabwe, Zvikomborero Haruzivishe, membandingkan Presiden Robert Mugabe dengan "Iblis". 

Kecaman itu muncul menanggapi kampanye yang baru diluncurkan untuk membersihkan jalan-jalan Harare dari pedagang kaki lima ilegal, kata sebuah laporan.

Menurut Zimbabwe.com baru-baru ini, Haruzivishe, yang menjabat sekretaris umum Serikat Mahasiswa Nasional Zimbabwe (Zinasu), mengatakan bahwa cara Mugabe dan pemerintahnya memperlakukan pedagang kecil 'jahat'. Lantaran para penjual itu adalah "korban kegagalan pemerintah menciptakan lapangan kerja bagi mayoritas warga negara".

Haruzivishe berkata bahwa kebanyakan mahasiswa di institusi pendidikan tinggi negara bergantung pada pendapatan yang dihasilkan orang tua mereka dari menjual barang dagangan di jalanan untuk bertahan hidup.

Polisi Zimbabwe meluncurkan sebuah kampanye buat membersihkan jalan-jalan Harare dari pedagang kaki lima 'ilegal', bulan lalu. Kejadian ini setelah Mugabe mengeluhkan jalan-jalan di pusat Harare, termasuk yang dinamai menurut namanya, kotor dan penuh sesak dengan pedagang jalanan ilegal yang memacetkan lalu lintas.

Haruzivishe katakan bahwa para penjual sekarang terpaksa untuk bermain 'kucing dan tikus' dengan polisi yang terkenal brutal di negara itu, yang mengejar-ngejar mereka dari jalanan.

"Mereka sedang dilecehkan, namun mereka berusaha mencari nafkah sendiri. Mereka menjadi korban karena telah berusaha untuk mengatasi kegagalan pemerintah menciptakan lapangan kerja. Jadi, sebenarnya kekejaman dan kejahatan, hanya bisa dilakukan oleh orang-orang seperti Setan dan Setan itu sendiri," kata Haruzivishe, seperti dikutip News24, Jumat 10 November 2017.

Kecamannya muncul seminggu menyusul Persatuan Pedagang Kaki Lima Zimbabwe (National Vendors Union of Zimbabwe/NAVUZ) memberi Mugabe ultimatum dua pekan supaya menghentikan kebrutalan polisi. Sambil memperingatkan bahwa kegagalan melakukannya akan memicu pembalasan.

Ketua NAVUZ Sten Zvorwadza menuduh polisi tanpa pandang bulu menyingkirkan para pedagang dengan cara-cara kekerasan.

Zvorwadza berkata bahwa pedagang dikenai cukup banyak kebrutalan polisi dan mereka bersiap melawan 'para petugas yang kasar" yang dia klaim melakukan kejahatan "di tengah hari bolong".

"Kami tidak akan pergi ke mana-mana. Kami warga yang bekerja dengan semangat. Mereka membuang-buang waktu dalam upaya untuk mengusir kita," tegas Zvorwadza.

Zvorwadza menekankan bahwa pihaknya akan melawan jika Mugabe gagal memanggil bawahannya guna memenuhi permintaan ini. Mereka pun memberi dia waktu hanya dua pekan untuk menanggapi pengaduan tersebut.


(FJR)