Menlu AS Bahas Isu Yaman Bersama Inggris dan Arab Saudi

Fajar Nugraha    •    Rabu, 24 Jan 2018 11:53 WIB
konflik yaman
Menlu AS Bahas Isu Yaman Bersama Inggris dan Arab Saudi
Menlu Inggris Boris Johnson dan Menlu AS Rex Tillerson dalam sebuah konferensi pers bersama, 22 Januari 2018 (Foto: AFP).

Paris: Menteri Luar Negeri Amerika Serikat (AS) Rex Tillerson melakukan pertemuan dengan Menlu Inggris Boris Johnson untuk membahas situasi di Yaman. 
 
Pertemuan juga dilakukan dengan Menlu Arab Saudi dan Menlu Uni Emirat Arab. Menlu Johnson yang pertama kali mengatur pertemuan di Kedutaan Inggris di Paris.
 
Sebelumnya Tillerson dan Johnson melakukan pertemuan pada Selasa 23 Januari, untuk meluncurkan inisiatif internasional melawan senjata kimia. Hal tersebut terutama penggunaan senjata kimia di Suriah.
 
"Konflik di Suriah dan Yaman sudah menciptakan dua krisis kemanusiaan yang terburuk dalam sejarah masa kini," ujar Menlu Johnson, sebelum pertemuan.
 
"Tidak boleh ada solusi militer bagi kedua konflik. Hanya perlu negosiasi politik yang damai dan penuh solusi untuk mengakhiri penderitaan ini," jelas Johnson, seperti dikutip AFP, Rabu 24 Januari 2018.
 
Yaman sudah menyebutkan bahwa Yaman,-negara termiskin di Timur Tengah,- sebagai bencana kemanusiaan yang terparah di dunia.
 
Sementara seorang pejabat Kementerian Luar Negeri AS menyebutkan apa isi pertemuan antara keempat menlu ini mengenai Yaman. Pembukaan akses untuk bantuan kemanusiaan menjadi perhatian lebih dalam pertemuan itu.
 
"Kami membahas tentang tujuan kritis di Yaman yang harus dipenuhi. Yang paling utama adalah memperluas akses kemanusiaan," tutur seorang pejabat Kemenlu AS, saat ditemui usai pertemuan.
 
"Ini memberikan kami peluang untuk mencapai tujuan lain, berupa resolusi politik dari konflik dan melawan pengaruh Iran di Yaman," imbuhnya.
 
Konflik di Yaman sudah menewaskan lebih dari 9.200 orang dan melukai 53 ribu lainnya. Pasukan koalisi yangv dipimpin Arab Saudi sudah melakukan berbagai serangan udara ke basis pertahanan pemberontak Houthi sejak Maret 2015. Mereka berusaha agar Presiden Yaman Abedrabbo Mansour Hadi kembali berkuasa.
 
Pasukan loyalis dari Presiden Hadi terus berjuang merebut kembali wilayah yang dikuasai oleh pemberontak Houthi. Arab Saudi dan AS, berulangkali menuduh Iran menyelundupkan senjata kepada pihak Houthi.
 



(FJR)