Sekutu Mulai Retak dalam Krisis Yaman

Arpan Rahman    •    Rabu, 31 Jan 2018 20:07 WIB
konflik yamankrisis yaman
Sekutu Mulai Retak dalam Krisis Yaman
Pertemuan masih terus berlangsung di Yaman (Foto: AFP).

Sanaa: Aliansi sekutu yang menyatukan sejumlah mantan musuh dalam perang saudaraYaman mulai retak. Berbagai ikatan di dalam sekutu itu berseteru tanpa henti.
 
Pada Selasa 30 Januari 2018, kawanan pejuang yang bersekutu dengan Dewan Transisi Selatan (STC) yang pro-pemisahan mengepung istana kepresidenan di Aden, tempat kedudukan pemerintah Yaman yang diakui secara internasional. 
 
Kepungan mereka memaksa perdana menteri bersiap melarikan diri. Itu menunjukkan bahwa persekutuan antara kedua pihak dalam perjuangan melawan pemberontak Houthi telah berakhir.
 
Bulan lalu, muncul perpecahan yang serupa dalam persekutuan lain, meskipun di sisi lain konflik dalam wilayah utara yang dikepung pemberontak.
 
Di Sanaa, ibu kota Yaman, pemberontak Houthi menduduki kota itu pada 2014 dibantu pasukan yang setia kepada Ali Abdullah Saleh, membunuh mantan presiden tersebut. Houthi menuduh dia berkhianat dan menjilat Arab Saudi, yang mendukung pemerintahan presiden saat ini Aden Abdurrahman Hadi.
 
Pecahnya aliansi STC-Hadi di selatan Yaman dan aliansi Houthi-Saleh di utara mengadu domba antarmantan sekutu satu sama lain di negeri yang dikenal dengan faksi kesukuannya yang rumit.
 
Risikonya membuat perang yang sudah buntu, yang telah menyebabkan krisis kemanusiaan terburuk di dunia, bahkan lebih sulit disudahi.
 
Adam Baron, seorang pakar yang diundang di Dewan Hubungan Luar Negeri Eropa (ECFR), mengatakan kepada Guardian: "Ada teori bahwa jika konflik terus berlanjut, akan berkembang menjadi situasi di mana Houthi akan membuat konsesi besar-besaran. Tapi apa yang kita lihat adalah perpecahan dan kelemahan di semua pihak."
 
"Setelah hari ini, setelah beberapa hari terakhir, akan sangat sulit bagi pialang kekuasaan internasional, dan ini termasuk pemerintah Yaman sendiri, untuk menyingkirkan STC sejauh mereka menyisihkannya sebelumnya," cetusnya seperti disitir Guardian, Rabu 31 Januari 2018.
 
Perang di Yaman, dimulai pada 2014, terutama berupa pertikaian antara pemberontak Houthi yang semula bersekutu dengan Saleh, yang memimpin negara tersebut dari 1990-2012, melawan pasukan yang setia kepada Hadi yang digulingkan, yang tinggal di pengasingan di ibukota Saudi, Riyadh.
 
Ketidakstabilan internal juga telah dicengkeram oleh Al Qaeda Jazirah Arab (AQAP), yang mengendalikan kawasan besar, khususnya di wilayah timur negara ini.
 
Namun perang saudara juga diperumit oleh geopolitik kawasan yang lebih luas. Banyak yang melihatnya melalui prisma perang proksi antara Iran lawan Arab Saudi.
 
Sejak Maret 2015, Arab Saudi memimpin intervensi militer Amerika Serikat (AS) dan Inggris di Yaman. Menghambat kemajuan Houthi dan meluncurkan serangan udara di Sana'a serta kota-kota besar lainnya, yang mengakibatkan ribuan kematian warga sipil.
 
Saudi dan sekutu Arab Sunni melihat pejuang Houthi, yang termasuk dalam aliran Syi'ah Zaydi, sebagai boneka Iran. Mereka telah menuduh Teheran secara militer mendukung Houthi dengan persediaan rudal, sebuah tuduhan yang disangkal Iran.
 
Sementara di Sanaa, selagi pemberontak Houthi mengalami berbagai kemunduran, "di sebagian besar wilayah yang mereka kendalikan (dan) Huthi telah mengkonsolidasikan kekuasaan mereka terhadap kekuasaan", pungkas Baron. 



(FJR)