Kekisruhan Politik di Zimbabwe WNI Diimbau Hindari Kerumunan

Marcheilla Ariesta    •    Rabu, 15 Nov 2017 14:18 WIB
zimbabwe
Kekisruhan Politik di Zimbabwe WNI Diimbau Hindari Kerumunan
Kondisi Zimbabwe usai operasi militer yang berlangsung pada Rabu 15 November 2017 (Foto: AFP).

Harare: Ketegangan akibat operasi militer di Harare, ibu kota Zimbabwe masih terasa. Meski demikian, Kedutaan Besar RI di Harare, tetap dibuka.

Duta Besar RI untuk Zimbabwe Stephanus Yuwono menuturkan, pihaknya telah mengimbau para warga negara Indonesia (WNI) untuk tidak keluar rumah bila tidak ada keperluan.

"WNI diimbau untuk seperlunya keluar dan menghindari kerumunan," ujarnya, saat dihubungi Metrotvnews.com, Rabu, 15 November 2017.

(Baca: Seorang Menteri Jadi Target Operasi Militer Zimbabwe).

Stephanus menuturkan situasi saat ini mulai kembali normal. Hanya saja, jalan utama masih diblokir kendaraan militer.

"Situasi normal, tidak ada kepanikan dari masyarakat. Beberapa jalan utama diblokir kendaraan militer," seru Stephanus.

Dia menjelaskan, bahwa ketegangan terjadi lantaran adanya pertikaian antarelit, yaitu antara militer dan partai yang berkuasa, ZANU-PF.

"(Situasi) dipicu karena ditendangnya Wakil Presiden Emerson Mnangagwa oleh Presiden Mugabe yang disebut-sebut karena pengaruh First Lady Grace Mugabe, yang diketahui punya ambisi untuk menggantikan suaminya," jelas Stephanus.

Meski demikian, Stephanus menjelaskan bahwa secara keseluruhan, situasi di ibu kota terpantau aman.

WNI yang berada di Zimbabwe berjumlah sekitar 50 orang. Selain keluarga KBRI, terdapat enam rohaniawan Katolik asal NTT yang bekerja di luar Harare, tiga orang menikah dengan ekspatriat setempat, dan seorang lagi di perkebunan.

(Baca: Mugabe dalam Kondisi Aman, Militer Bantah Lakukan Kudeta).

Sebelumnya, suara tembakan terdengar di kediaman pribadi miliki Presiden Zimbabwe Robert Mugabe di Harare. Hal itu dilaporkan pada Rabu 15 November pagi waktu setempat.

"Dari dalam rumahnya, kami mendengar sekitar 30 hingga 40 suara tembakan. Kejadian berlangsung antara tiga hingga empat menit setelah pukul 2.00 pagi," ujar seorang saksi.

Namun, militer Zimbabwe membacakan pernyataan tertulis yang menyebutkan bahwa mereka mengincar penjahat di sekitar Presiden Robert Mugabe. Mereka juga menyatakan saat ini sang presiden dalam keadaan aman.

Militer juga membantah dan mengatakan bahwa mereka tidak berniat untuk mengambil alih pemerintahan.


(FJR)