KBRI Kairo Benarkan Penangkapan Dua Mahasiswa Indonesia

Sonya Michaella    •    Kamis, 10 Aug 2017 18:56 WIB
indonesia-mesir
KBRI Kairo Benarkan Penangkapan Dua Mahasiswa Indonesia
Kepolisian Mesir bersiaga di depan Universitas Al-Azhar di Kairo, 21 Oktober 2014. (Foto: AFP)

Metrotvnews.com, Jakarta: KBRI Kairo membenarkan bahwa ada dua mahasiswa asal Indonesia yang ditangkap aparat Mesir. Terkait hal ini, KBRI Kairo sudah mengirimkan nota diplomatik kepada Kementerian Luar Negeri Mesir untuk meminta penjelasan.

Menurut kabar yang beredar, dua mahasiswa Indonesia ini ditangkap karena memasuki zona terlarang di Mesir.

"Sampai saat ini, KBRI Kairo belum mendapat notifikasi resmi dari aparat keamanan Mesir terkait penahanan dua mahasiswa Indonesia tersebut," kata Duta Besar RI untuk Mesir, Helmy Fauzi kepada Metrotvnews.com, Kamis 10 Agustus 2017.

KBRI Kairo pun sudah mengirimkan dua stafnya untuk mendatangi Samanud dan ke kantor kepolisian di Kora Aga, yang dikabarkan menjadi tempat penahanan dua mahasiswa itu, namun nihil.

"Dua staf KBRI tidak menemukan dua mahasiswa kita. Informasi juga tidak didapat meski kunjungan kita ini resmi," lanjut dia.

Namun, Dubes Helmy mengatakan bahwa saat ini KBRI sudah mendapatkan konfirmasi informal bahwa kedua mahasiswa tersebut benar ditahan di kantor polisi kota Aga.

"Kami terus berkomunikasi dengan pihak Kemlu Mesir, Dinas Keamanan Nasional dan aparat keamanan Mesir dan mengirimkan pengacara untuk membebaskan mereka," tutur dia.

Besar kemungkinan, kedua mahasiswa ini akan dideportasi. Sebelumnya KBRI telah mengeluarkan imbauan agar seluruh mahasiswa Indonesia untuk meninggalkan Samanud dan tak lagi "mondok",  mengkaji dan belajar ilmu agama dengan para ulama yang tak berafiliasi dengan Al Azhar serta berseberangan dengan Pemerintah Mesir.

KBRI juga telah menawarkan bantuan untuk memfasilitasi pengambilan barang-barang milik mahasiswa Indonesia yang masih tertinggal di Samanud. Namun, ternyata para mahasiswa Indonesia menolak bantuan tersebut dan mengatakan bisa mengambil sendiri barang mereka yang tertinggal di sejumlah pondok di Samanud.

Pada umumnya, madrasah tempat pengkajian agama di Samanud dipimpin dan diasuh oleh para syekh atau ulama yang tak berafiliasi dengan Al Azhar dan bahkan dinilai berseberangan dengan Pemerintah Mesir.

Grand Sheikh Al Azhar sendiri telah mengimbau agar para mahasiswa Al Azhar meninggalkan Samanud dan tak belajar ilmu agama dengan ulama non al Azhar di sejumlah madrasah di daerah tersebut.


(WIL)