100 Orang Tewas di Tengah Gencatan Senjata Suriah

Willy Haryono    •    Minggu, 11 Sep 2016 12:23 WIB
krisis suriah
100 Orang Tewas di Tengah Gencatan Senjata Suriah
Serangan udara melanda Idlib dan Aleppo di tengah gencatan senjata di Suriah, 10 September 2016. (Foto: Reuters)

Metrotvnews.com, Beirut: Sekitar 100 orang tewas dalam serangkaian serangan udara di Idlib dan Aleppo, beberapa jam setelah Amerika Serikat (AS) dan Rusia mengumumkan gencatan senjata selama 10 hari di Suriah. 

Seperti dikutip BBC, Sabtu (10/9/2016), sedikitnya 60 orang tewas dalam serangan udara di sebuah pasar di Idlib, dan 45 lainnya akibat pengeboman di Aleppo. 

Grup pemantau Syrian Observatory for Human Rights mengatakan sedikitnya 13 anak-anak dan sejumlah wanita tewas dalam serangan di Idlib. Beberapa dari korban itu terbakar hingga tak dapat dikenali. 

"Orang-orang sedang berbelanja menjelang Iduladha, itulah mengapa jumlah korban tewas begitu besar," kata kepala Observatory, Rami Abdel Rahman. 

Hingga saat ini belum diketahui pasti siapa pihak yang melancarkan serangan udara di tengah gencatan senjata. 

Jumat kemarin, AS dan Rusia mengumumkan gencatan senjata yang akan mulai diberlakukan di Suriah mulai 12 September hingga sepuluh hari ke depan. Menteri Luar Negeri AS John Kerry mengatakan jika gencatan senjata bertahan hingga tujuh hari, maka Negeri Paman Sam akan bekerja sama dengan Rusia untuk melancarkan serangan udara terhadap kelompok militan Islamic State (ISIS) dan al-Nusra Front. 

Kubu oposisi Suriah menyambut baik perjanjian gencatan senjata. Bassma Kodmani, anggota Komite Negosiasi Tinggi (HNC) yang merupakan oposisi rezim Presiden Suriah Bashar al-Assad, mengatakan detail lebih lanjut diperlukan mengenai rencana implementasi gencatan senjata.

"Pelanggaran dari rezim harus direspons dengan kekuatan militer. Itulah yang akan membuat gencatan senjata ini kredibel," tutur Bassma seperti dilansir Al Jazeera. 

Dalam sebuah surat kepada sejumlah pemberontak Suriah, Utusan Khusus AS untuk Suriah meminta mereka menjauhkan diri dari grup ekstremis Jabhat Fateh al-Sham, yang sebelumnya sempat terafiliasi dengan al-Qaeda. 

Sementara itu kantor berita pemerintah Suriah, SANA, melaporkan bahwa rezim Assad juga menyambut baik gencatan senjata. Utusan PBB untuk Suriah, Stefan de Mistura, mengaku akan memanfaatkan momen ini dengan sebaik-baiknya untuk menyalurkan bantuan kemanusiaan ke warga sipil.


(WIL)