Tentara Anak-anak ISIS Mau Diapakan?

Arpan Rahman    •    Jumat, 16 Jun 2017 18:07 WIB
isis
Tentara Anak-anak ISIS Mau Diapakan?
Anak-anak menjadi korban kebiadaban ISIS (Foto: Independent).

Metrotvnews.com, Ankara: Di kala Omar (12) kembali ke rumah setelah 40 hari di sebuah kamp latihan yang dijalankan Islamic State (ISIS), jelas ada sesuatu dalam dirinya yang bergejolak. Suatu kali anak laki-laki yang pendiam dan penggemar kartun SpongeBob SquarePants itu menjadi agresif. 
 
Dia katakan pada ibunya agar berhenti memakai make-up, menolak untuk menyapa teman perempuan ibunya, dan menjadi marah saat ibunya mencoba memandikannya. "Saya takut memakai kaus di rumah saya sendiri," kata ibunya, Amina. "Dia bilang kepada saya itu semua dilarang dalam Islam. Mereka mencuci otaknya."
 
Omar meninggal tak lama setelah kepulangan terakhirnya ke rumah. Dilatih oleh ISIS sebagai salah seorang anggota satuan pasukan Inghimasi (taktik populer teroris guna memastikan korban massal dalam serangan teror). Dikirim ke medan tempur dengan senapan serbu dan rompi bunuh diri -- Omar tewas dalam pertempuran lawan pasukan pemerintah Suriah di kota timur Deir Ezzor, tidak jauh dari rumahnya, enam bulan silam. ISIS membiarkan ibunya selama 15 menit bersama jasad anaknya sebelum memakamkannya di sebuah kuburan yang dilarang bagi wanita melayat.
 
Derita Amina makin dalam akibat perkawinannya dengan pria yang dia salahkan atas kematian anaknya. Kini dirinya jadi pengungsi di Turki. Mengakui bahwa suaminya -- yang sudah terpikat ideologi ISIS sesaat setelah kelompok tersebut menyerang daerah mereka -- mendorong Omar agar bergabung dengan ekstremis. 
 
"Dia bilang ke saya bahwa saya seharusnya bahagia saat Omar meninggal; bahwa dia berada di surga," katanya dengan derai air mata mengucur di wajahnya. 
 
"Rasanya seperti seseorang telah menarik jiwaku," sebutnya.
 
Kelompok ekstremis ultra-bengis sudah merekrut ribuan anak di Irak dan Suriah. Seperti Omar, banyak yang dikirim ke medan perang untuk mati. Yang lainnya bekerja sebagai mata-mata, pembuat bom, juru masak atau penjaga penjara. Dalam kasus yang ekstrim, anak-anak telah mengeksekusi tahanan, menggergaji kepala dengan pisau atau menembakkan peluru ke tengkorak. Ribuan lagi telah terpapar ideologi miring kelompok itu di sekolah yang disponsori ISIS.
 
Para ekstremis menggambarkan anak-anak sebagai masa depan "khilafah" mereka, yang akan memastikan kelangsungan hidupnya. Namun para militan mengirim lebih banyak anak untuk mati daripada sebelumnya. Di bawah tekanan operasi berbasis Amerika, wilayah ISIS di Irak dan Suriah menyempit. 
 
Demi mengganti jumlah korban pejuang dewasa yang tewas, para ekstremis merekrut lebih banyak anak-anak. Pada Januari, 51 anak-anak meledakkan diri di Mosul. Banyak lagi yang akan mati dalam pertempuran untuk kota Raqqa di Suriah yang baru saja mulai. Menekankan peperangan, kemanfaatan militer telah melambungkan impian ISIS buat memelihara generasi berikutnya terdiri dari para pejuang suci.
 
Meski begitu, banyak tentara anak akan hidup lebih lama dari kekhalifahan itu, dan akan menimbulkan ancaman keamanan lama setelah kejatuhan ISIS. Dinas intelijen Eropa khawatir: anak-anak yang diajari membangun bom dan membenci Barat mungkin merasa lebih mudah daripada orang dewasa untuk menyelinap lewat perbatasan atau melintasi pemeriksaan dinas keamanan. 
 
Di Irak, pemerintah tidak siap buat melakukan demobilisasi ribuan tentara anak terlatih yang pikirannya dikocok oleh ideologi ultra-kekerasan. Dalam kekacauan Suriah, mantan "anak-anak khalifah" dapat membuat rekrutan mudah bagi banyak kelompok jihad lainnya di sebuah negeri.
 
Pertanyaannya: bagaimana mengatasi bahaya yang meningkat. Salah satu pilihan pahit adalah membunuh sebanyak mungkin tentara anak di medan perang, dan memenjarakan sisanya. Sejarah menunjukkan bahwa itu mengubah penjara menjadi tempat berkembang biak bagi generasi militan berikutnya. 
 
Sekitar 2.000 anak-anak sudah merana di penjara Irak, dituduh bekerja sama dengan ISIS. Pusat penahanan ini kurang dilengkapi fasilitas demi menangani anak-anak yang mengalami radikalisasi. Bukannya menerima perawatan khusus, tahanan anak yang diwawancarai oleh kelompok hak asasi manusia mengatakan pasukan keamanan Irak telah menyiksa mereka. Disalahgunakan dan ditinggalkan, anak-anak ini akan tumbuh membenci negara.
 
Pilihan yang jauh lebih baik adalah mencoba merehabilitasi tentara anak yang bertahan hidup. Sekolah lagi dan diberi pekerjaan, anak-anak cenderung tidak bergabung kembali dengan kelompok bersenjata, membuat radikal rekan mereka atau menciptakan kelompok pemberontak mereka sendiri. Program rehabilitasi yang dipimpin oleh PBB di Sierra Leone, misalnya, telah dipuji secara luas. 
 
Tapi yang terdengar bagus dalam teori akan sulit dalam praktek. Banyak anak-anak akan kembali ke komunitas yang anggotanya membenci mereka karena bergabung dengan kelompok yang membantai dan menjarah kota dan desa mereka. 
 
"Anak-anak ini bukan korban. Mereka telah membunuh saudara dan teman kita. Mereka layak dihukum mati," kata seorang komandan pemberontak yang melawan ISIS di Suriah, seperti dilansir The Economist, Kamis 15 Juni 2017. 
 
Anak-anak lain akan menolak bantuan, takut ditangkap oleh pasukan keamanan Irak atau dibunuh oleh ISIS karena telah melarikan diri.
 
Banyak cara ISIS merekrut anak-anak akan membuat program rehabilitasi lebih sulit didesain. Beberapa anak telah dirampas dari panti asuhan atau diculik dari sekte minoritas. Diajak oleh teman sebaya, anak-anak lainnya tergoda oleh janji berkelompok, uang, dan kekuasaan kelompok tersebut. Orangtua telah mengirim anak-anak mereka kembali, tergoda mendapatkan makanan, memasak gas, dan uang saku bulanan sebesar USD200; yang lain, seperti ayah Omar, lantaran yakin pada ideologi ISIS.
 
Peran yang dimainkan oleh keluarga dalam proses rekrutmen sangat merusak. Dalam konflik lain, orang tua tentara anak telah meredakan transisi menuju kehidupan sipil. Di El Salvador, misalnya, 84 persen mantan pejuang anak mengatakan bahwa keluarga mereka adalah faktor terpenting dalam reintegrasi mereka, menurut Biomedica, sebuah jurnal. Tapi di Irak dan Suriah, banyak keluarga kadang-kadang mendorong anak-anak mereka supaya bergabung dengan militan, beberapa di antaranya menganut keyakinan mengerikan bahwa kematian anak mereka dalam pertempuran membersihkan juga jalan keluarga mereka sendiri ke surga.
 
Sangat menggiurkan melihat ISIS menggunakan anak-anak  sebagai keunikan di antara kelompok militan. Pada Juli 2015 para pejuang merilis video pertama seorang anak yang memancung tawanan (pilot di angkatan udara Suriah). 
 
Pada awal 2016, seorang anak laki-laki Inggris berusia empat tahun, yang ibunya membawanya ke Suriah, menjadi anak Eropa pertama yang tampil dalam video eksekusi: dia difilmkan menekan sebuah tombol yang meledakkan sebuah mobil dengan tiga tahanan di dalamnya. Di video lain, anak laki-laki berlomba melewati reruntuhan sebuah kastil, bersaing untuk melihat siapa yang bisa membunuh paling banyak tawanan. Yang lainnya difoto saat mencangking kepala yang terpenggal, ayah mereka berseri-seri dengan bangganya di samping mereka.
 
Meski kreativitas kekerasan bisa jadi hal baru, tingkat kebrutalannya tidak. Tentara anak-anak di belahan dunia lain membunuh orang tua mereka sendiri, mengiris bibir tawanan, dan memotong anggota tubuh. Bukanlah kebiadaban yang baru, melainkan bagaimana kekerasan didokumentasikan dan disebarluaskan. 
 
Juga bukan alasan mengapa seorang anak bergabung dengan ISIS unik. Dalam konflik lain juga, tentara anak telah dipetik dari masyarakat termiskin, mangsa mudah bagi para pemimpin agama yang terampil mengubah perasaan marah, pengucilan, dan balas dendam menjadi kekerasan.
 
Rencana untuk menawarkan magang dan pelatihan kejuruan kepada anak-anak yang telah bertempur membela ISIS sekarang sedang dipertimbangkan di Irak. Anak-anak khalifah suatu hari nanti mungkin akan memperbaiki unit AC, memangkas rambut, memperbaiki mobil, dan mereparasi ponsel. Tapi semua ini masih jauh sekali. 
 
Menciptakan lapangan kerja di sebuah negara dengan tingkat pengangguran pemuda dan korupsi endemik akan membutuhkan waktu dan biaya. Sekolah mulai terbuka di daerah yang pernah diduduki oleh ISIS, namun staf mereka dengan guru berkualitas yang dapat menangani masalah kompleks seperti radikalisasi dan trauma psikologis akan sulit dilakukan. Pemerintah di Barat mulai menunjukkan ketertarikan pada program rehabilitasi. Apakah anak-anak jihad saat ini akan tumbuh kelak menjadi kawanan singa semua sangat bergantung pada berapa lama perhatian ini bertahan.
 



(FJR)

Waspadai Infiltrasi Ideologi

Waspadai Infiltrasi Ideologi

3 hours Ago

Infiltrasi ideologi merupakan ancaman di balik cepatnya perkembangan teknologi. Namun pendekatan…

BERITA LAINNYA