Korupsi Merajalela di Pemerintahan, Menlu Zambia Mengundurkan Diri

Marcheilla Ariesta    •    Rabu, 03 Jan 2018 17:24 WIB
politik zambia
Korupsi Merajalela di Pemerintahan, Menlu Zambia Mengundurkan Diri
Menlu Zambia Harry Kalaba mengundurkan diri karena korupsi semakin merajalela di pemerintahannya. (Foto: AFP).

Lusaka: Menteri Luar Negeri Zambia Harry Kalaba mengundurkan diri karena korupsi semakin merajalela di pemerintahannya. Dia bahkan mengkritik Presiden Edgar Lungu yang diam melihat uang rakyat diambil pejabat rakus.

Kalaba, yang diangkat menjadi menlu pada 2014, menulis pesan pedas di media sosial. Pesannya itu menyerang Parai Front Patriotik yang berkuasa di sana.

"Kami tidak bisa melanjutkan mengelola urusan nasional dengan sikap acuh tak acuh saat korupsi meningkat dan dilakukan mereka yang diharapkan menjadi solusinya," tulis Kalaba, seperti dikutip dari AFP, Rabu 3 Januari 2018.

"Tampaknya Zambia semakin miskin dan disebabkan oleh mereka yang memegang kekuasaan," ucapnya.

Kalaba dipandang sebagai penerus Lungu, namun tampaknya sang presiden enggan memberikan kursi kekuasaannya. Lungu berencana mencalonkan diri kembali sebagai presiden pada pemilihan 2021.

Pencalonan Lungu ini dikritik banyak pihak. Pasalnya, secara konstitusional, seseorang dapat memimpin negara selama dua periode.

Lungu menjadi presiden pada 2015 usai kematian pendahulunya, Michael Sata. Dia kembali terpilih memimpin Zambia pada 2016.

Kalaba mengatakan telah mengajukan surat pengunduran diri. Namun, juru bicara kepresidenan menyebutkan surat tersebut tidak secara resmi diterima.

"Kami belum melihat suratnya, dia tidak membawanya ke sini," ucap Juru Bicara Kepresidenan Amos Chanda.

Kalaba tidak bersedia memberikan komentar, namun pengunduran dirinya telah dikonfimasi pejabat kementerian luar negeri.

Perwakilan Transparansi Internasional Zambia Reuben Lifuka mengatakan kemarahan publik atas dugaan korupsi yang telus berkembang.

"Pengunduran diri Harry Kalaba sebagai bukti dugaan banyak orang yang telah menyatakan keprihatinan mereka atas meningkatnya korupsi di negara ini. Sudah saatnya kita melihat tindakan nyata dari Presiden Lungu," kata dia.

Salah satu tindakan dugaan korupsi di negara Benua Hitam itu, yaitu pada pengadaan 42 truk pemadam kebakaran negara bagian seharga USD1 juta (setara Rp13,4 miliar) dan pembelian 50 ambulans seharga USD228 juta atau setara Rp3 triliun.


(FJR)