Kepala Amnesty International Turki Kembali Ditahan

Arpan Rahman    •    Jumat, 02 Feb 2018 10:25 WIB
turki
Kepala Amnesty International Turki Kembali Ditahan
Ilustrasi: Metrotvnews.com

Istanbul: Polisi Turki kembali menahan kepala kelompok hak asasi manusia Amnesty International di Turki. Hanya beberapa jam setelah pengadilan Istanbul memerintahkan pembebasan bersyarat, kelompok HAM itu mengatakan, pada Kamis 1 Februari 2018.
 
Taner Kilic sudah ditahan sejak Juni 2017, ketika dia dibui karena dicurigai menjadi bagian dari kelompok yang dipimpin oleh ulama Muslim yang berbasis di Amerika Serikat (AS), Fethullah Gulen. Pihak Ankara mendakwa Gullen menggerakkan demonstrasi pada Juli 2016 buat menggulingkan Presiden Recep Tayyip Erdogan.
 
Kilic telah secara konsisten membantah klaim tersebut. Sementara Amnesty telah mencap tudingan itu sebagai "tidak berdasar".
 
Pihak berwenang Turki mengacu pada gerakan Gulen sebagai "organisasi teroris". Namun Gulen dengan tegas membantah tautan apapun terhadap aksi kudeta maupun label teror tersebut.
 
Para pendukung Kilik lega, Rabu, ketika pengadilan Istanbul membebaskannya dari sebuah penjara di kota Izmir, Aegean, di bawah kontrol yudisial.
 
Tapi beberapa jam kemudian, surat perintah penangkapan baru dikeluarkan untuk Kilic. Dia dibawa kembali ke tahanan, kata Amnesty.
 
"Kami terbang ke Izmir dan pergi ke penjara, dengan harapan bisa menyaksikan pembebasan Taner dengan keluarganya. Sebaliknya, sekitar tengah malam, Amnesty International menyaksikan Taner dibawa dari penjara Izmir ke dalam tahanan polisi di sebuah stasiun di dekatnya," cuit direktur Amnesty di Eropa Gauri van Gulik di Twitter seperti disitat AFP, Kamis 1 Februari 2018.
 
Kilic diadili bersama 10 aktivis hak lainnya termasuk direktur Amnesty di Turki Idil Eser, aktivis Jerman Peter Steudtner, dan mitra Swedia, Ali Gharavi.
 
Mereka 10 lainnya itu semuanya dilepaskan tahun lalu, meskipun persidangan mereka berlanjut. Sidang berikutnya ditetapkan pada 21 Juni
 
Ke-10 orang tersebut dituduh memiliki hubungan dengan Gulen dan kelompok-kelompok yang dilarang lainnya, termasuk Partai Pekerja Kurdistan (PKK), yang melakukan pemberontakan tiga dekade melawan Turki.
 
Setelah kudeta yang gagal 2016, Turki memberlakukan keadaan darurat yang diperbaharui bulan lalu untuk yang keenam kalinya.
 
Lebih dari 55.000 orang sudah ditahan karena diduga memiliki kaitan dengan Gulen di bawah pemberlakuan keadaan darurat ini.



(FJR)