Kontroversi Ilmuwan Australia Ingin Akhiri Hidup Melalui Euthanasia

Fajar Nugraha    •    Kamis, 03 May 2018 15:50 WIB
peristiwa unik
Kontroversi Ilmuwan Australia Ingin Akhiri Hidup Melalui Euthanasia
Ilmuwan Australia David Goodall yang ingin mengakhiri hidup di Swiss (Foto: AFP).

Basel: Ilmuwan tertua di Australia meninggalkan negaranya ke Swiss untuk mengakhiri hidupnya pada usia 104 tahun. Dia marah karena harus pergi ke luar negeri untuk mengakhiri hidup.
 
David Goodall tidak memiliki penyakit yang mematikan tetapi kualitas hidupnya telah memburuk dan dia mendapatkan perjanjian jalur cepat dengan dibantu agen mati Life Circle di Basel.
 
Dia naik pesawat di Perth Rabu 2 Mei malam yang dikelilingi oleh teman dan keluarga sambil mengatakan selamat tinggal terakhir mereka.
 
Dia akan menghabiskan beberapa hari bersama keluarga lain di Bordeaux, Prancis, sebelum menuju ke Swiss di mana dia akan mengakhiri hidupnya pada 10 Mei.
 
"Saya tidak ingin pergi ke Swiss, meskipun itu negara yang bagus," kata Goodall kepada penyiar ABC sebelum pergi, seperti dikutip AFP, Kamis 3 Mei 2018.
 
"Tetapi saya harus melakukan itu untuk mendapatkan kesempatan bunuh diri yang tidak diizinkan oleh sistem Australia. Saya merasa sangat kesal," jelasnya
 
Bunuh diri yang dibantu atau Euthanasia adalah ilegal di sebagian besar negara di seluruh dunia dan dilarang di Australia sampai negara bagian Victoria menjadi yang pertama untuk melegalkannya tahun lalu.
 
Tetapi undang-undang itu, yang berlaku mulai Juni 2019, hanya berlaku untuk pasien yang sakit parah dan harapan hidup kurang dari enam bulan.
 
Negara-negara lain di Australia telah memperdebatkan Euthanasia di masa lalu, tetapi proposal tersebut selalu dikalahkan, yang paling baru di negara bagian New South Wales tahun lalu.
 
Exit International, yang membantu Goodall melakukan perjalanan, mengatakan tidak adil bahwa salah satu "warga tertua dan paling terkemuka Australia harus dipaksa untuk melakukan perjalanan ke sisi lain dunia untuk mati dengan bermartabat".
 
Kelompok ini meluncurkan kampanye GoFundMe untuk mendapatkan tiket pesawat untuk Goodall dan helpernya ditingkatkan ke kelas bisnis dari ekonomi dan dengan cepat mengumpulkan lebih dari 20.000 dolar Australia atau setara Rp210 juta.


(FJR)