Australia akan Larang Pendakian di Uluru Mulai 2019

Arpan Rahman    •    Kamis, 02 Nov 2017 09:54 WIB
peristiwa unik
Australia akan Larang Pendakian di Uluru Mulai 2019
Ilustrasi: Metrotvnews.com

Metrotvnews.com, Canberra: Mendaki Uluru, ikon perbukitan di Australia, akan dilarang pada Oktober 2019. Otoritas setempat mengkonfirmasikan pelarangan.
 
Dewan Taman Nasional Uluru-Kata Tjuta memilih dengan suara bulat untuk mengakhiri pendakian bentang alam khas yang sensitif ini.
 
Uluru, monolit raksasa berwarna merah di Northern Territory, menjadi situs suci bagi orang Aborigin Australia.
 
Pemilik tradisional kawasan ini sudah lama meminta pengunjung agar tidak menaiki Uluru.
 
"Ini adalah tempat yang sangat penting, bukan taman bermain atau taman hiburan seperti Disneyland," kata ketua dewan Sammy Wilson, pada Rabu.
 
"Melarang pendakian bukanlah sesuatu yang terjadi karena kita merasa marah, tapi sebagai penghormatan. Mari kita menutupnya bersama-sama," sambung Wilson.
 
Hanya 16 persen pengunjung yang melakukan pendakian antara 2011 sampai 2015, kata dewan tersebut. Perjalanan tersebut menewaskan sedikitnya 35 orang sejak 1950-an.
 
Monolit yang terdaftar sebagai Warisan Dunia, sebelumnya dikenal sebagai Batu Ayers, diserahkan kembali ke pemilik tradisionalnya pada 1985. Larangan terbaru akan dimulai pada 26 Oktober 2019 -- ulang tahun ke-34 dari serah terima tersebut.
 
Situs populer
 
Pusat Tourisme Australia (TCA) mengatakan bahwa pihaknya mendukung keputusan. Sambil menunjukkan bahwa masyarakat masih dapat mengakses sebagian besar situs dengan penuh kehati-hatian.
 
Namun, tidak semua mendukung gagasan larangan terakhir ini. Tahun lalu, Menteri Utama Northern Territory Adam Giles memicu perdebatan saat dia menggambarkan anggapan tersebut sebagai "menggelikan".
 
"Kita harus mengeksplorasi gagasan untuk menciptakan pendakian dengan kondisi keselamatan yang ketat dan peraturan yang menegakkan penghormatan spiritual," kata Giles, yang juga orang Aborigin.
 
Lebih dari 250.000 orang mengunjungi Uluru setiap tahun, menurut situs Taman Nasional Uluru-Kata Tjuta.



(FJR)