Bangsa Romawi Sudah Lama Miliki Industri Ikan Paus

Arpan Rahman    •    Kamis, 12 Jul 2018 09:07 WIB
peristiwa unik
Bangsa Romawi Sudah Lama Miliki Industri Ikan Paus
Ikan paus di pulau Grand Manan, Kanada (Foto: Alamy).

Paris: Tulang-belulang purba ditemukan di sekitar Selat Gibraltar menunjukkan bahwa bangsa Romawi kemungkinan memiliki industri perburuan ikan paus yang berkembang pesat.
 
Tulang-tulang, berasal dari beberapa abad awal sebelum Masehi atau sebelumnya, milik paus abu-abu dan paus Atlantik Utara -- spesies migrasi pesisir yang tidak lagi ditemukan di perairan Eropa.
 
Para peneliti berkata, tidak hanya menunjukkan paus ini mungkin sudah biasa di sekitar pintu masuk ke Mediterania pada zaman Romawi, tetapi orang Romawi mungkin telah memburu mereka.
 
Ditambahkan bahwa bangsa Romawi barangkali memang tidak memiliki teknologi berburu spesies paus yang ditemukan di wilayah itu hari ini -- paus sperma atau sirip yang hidup lebih jauh di laut -- yang berarti bukti penangkapan paus mungkin bukan sesuatu yang arkeolog dan sejarawan cermati.
 
"Ini adalah (spesies) pantai yang membuat semua perbedaan," kata Dr Ana Rodrigues, penulis utama penelitian dari Pusat Ekologi Fungsional dan Evolusioner, CEFE, di Prancis.
 
Paus tertentu pernah berkembang luas di Atlantik Utara, tempat berkembang biaknya di lepas pantai utara Spanyol dan Afrika barat laut, tetapi diburu oleh penjelajah asal Basque di Abad Pertengahan antara lain, dan sekarang hanya ditemukan di Atlantik Utara sebelah Barat. Paus abu-abu menghilang dari Atlantik Utara beberapa saat pada abad ke-18, dan sekarang hanya ditemukan di Pasifik.
 
Hingga penemuan baru-baru ini, tidak jelas apakah habitat ikan paus pernah termasuk Mediterania: wilayah ini lebih ke selatan bagi hewan itu untuk berpotensi melahirkan di sana setelah makan di daerah utara. Meskipun beberapa laporan sejarah tentang paus yang berbiak di Mediterania, satu-satunya pengamatan paus abu-abu yang dapat diandalkan di wilayah ini adalah pada 2010 dan diduga merupakan individu yang salah arah yang muncul dari Pasifik.
 
Menulis dalam jurnal Proceedings of the Royal Society B, Rodrigues dan sebuah tim arkeolog dan ahli ekologi, menjelaskan bagaimana mereka mulai membongkar masalah ini dengan memeriksa 10 ruas tulang -- yang diduga berasal dari ikan paus -- dikumpulkan selama penggalian arkeologi baru-baru ini atau disimpan di koleksi museum. Tulang-tulang ini berasal dari lima lokasi -- empat di sekitar Selat Gibraltar dan satu situs di pantai Spanyol barat laut, tiga di antaranya terkait dengan industri pembuatan ikan dan pengasinan ikan.
 
Tim ini menggabungkan analisis anatomi sebelumnya dengan analisis baru berdasarkan DNA yang diambil dari tulang dan kolagen mereka -- protein yang susunannya berbeda antara kelompok spesies, dan yang terdegradasi lebih lambat daripada DNA.
 
Sementara salah satu tulang ditemukan dari lumba-lumba dan yang lain dari gajah -- mungkin hewan perang -- tiga diidentifikasi sebagai paus abu-abu, dan dua sebagai ikan paus Atlantik Utara sedang yang lain juga dicurigai berasal dari spesies yang terakhir ini. Semua ditemukan berkat penanggalan karbon sebagai berasal dari zaman Romawi atau pra-Romawi --- temuan itu didukung penanggalan berdasarkan informasi dari situs arkeologi.
 
Teori ini didukung sejumlah tulisan dari masa itu: Pliny the Elder -- seorang naturalis berwibawa yang wafat di pantai Pompeii selama bencana vulkanik -- muncul untuk referensi paus yang beranak di perairan pantai dari Cadiz di musim dingin di Naturalis Historia. Dan jika paus itu ada, tim mengatakan, sangat mungkin orang-orang Roma memburu mereka.
 
Dr Vicki Szabo, ahli dalam sejarah penangkapan ikan paus dari Western Carolina University mengatakan studi ini menawarkan sekilas kelangkaan habitat masa kuno paus, dan mendukung gagasan bahwa perburuan untuk industri mungkin telah terjadi jauh lebih awal dari yang dipikirkan secara luas, meskipun skalanya tidak jelas.
 
Mark Robinson, profesor arkeologi lingkungan di Universitas Oxford, mengatakan ada saran selama satu dekade bahwa beberapa situs Romawi dengan tong-tong ikan di wilayah itu mungkin terkait perburuan ikan paus. "Penulis Yunani, Oppian, yang mencatat di abad ke-2 Masehi, menggambarkan paus yang diburu di Mediterania Barat dengan harpun di perairan, juga menggunakan trisula dan kapak untuk membunuhnya, memukul mereka ke perahu dan kemudian menyeretnya ke pantai," katanya, seperti disitat dari Guardian, Kamis 12 Juli 2018.
 
Namun Dr Erica Rowan, seorang ahli klasik di Royal Holloway, University of London, mengatakan sementara penelitian menunjukkan habitat ikan paus mungkin harus diperluas mencakup wilayah Gibraltar, bagaimana umumnya paus itu dan apakah orang Romawi secara industri memburu mereka seperti yang mereka lakukan atas ikan tuna masih belum jelas -- paling tidak karena studi tersebut hanya memasukkan segelintir tulang dari periode yang mencakup beberapa ratus tahun.


(FJR)