Biksu Jet Set Thailand Divonis Penjara 114 Tahun

Fajar Nugraha    •    Kamis, 09 Aug 2018 15:47 WIB
thailand
Biksu Jet Set Thailand Divonis Penjara 114 Tahun
Wiraphon Sukphon divonis penjara hingga 114 tahun (Foto: AFP).

Bangkok: Pengadilan Thailand menghukum seorang mantan biksu yang melakukan tingkah memalukan dengan menikmati fasilitas mewah. Ulahnya itu bertentangan dengan ajaran Budha.
 
Wiraphon Sukphon divonis penjara hingga 114 tahun setelah dia diekstradisi dari Amerika Serikat (AS). Sukphon menjadi topik berita utama pada tahun 2013 ketika cuplikan yang menunjukkan dirinya mengenakan kaca mata hitam buatan desainer ternama dengan tas Louis Vuitton di jet pribadi.
 
Pria berusia 39 tahun itu melarikan diri ke AS tetapi dikirim kembali setelah ia dituduh memperkosa seorang gadis di bawah umur yang menjadi penyumbangnya, 10 tahun lalu. Tidak hanya itu, gadis tersebut melahirkan anak yang merupakan keturunan mantan biksu itu.
 
Wiraphon juga dikabarkan melakukan penipuan terhadap pedonor yang memberinya uang untuk membangun patung Budha terbuat dari zamrud terbesar di dunia. Pemeriksaan lebih lanjut mengungkapkan ia memiliki mobil mewah dan beberapa rekening bank senilai sekitar USD700.000 atau sekitar Rp10 miliar.
 
Menurut keterangan pejabat Pengadilan Bangkok, Wiraphon dihukum karena pencucian uang, penipuan dan melanggar Undang-Undang Kejahatan Komputer untuk mengumpulkan dana secara online.
 
"Para hakim menghukumnya dan menghukumnya secara total hingga 114 tahun," kata pejabat itu, seperti dikutip AFP, Kamis 9 Agustus 2018.
 
Namun pihak pengadilan menambahkan bahwa di bawah hukum Thailand, Wiraphon tidak akan menjalani lebih dari 20 tahun untuk tiap dakwaan. Wiraphon juga diminta mengembalikan 28,6 juta baht atau sekitar Rp12,4 miliar kepada 29 donor yang mengajukan pengaduan.
 
Sementara jaksa penuntut umum menyebutkan bahwa putusan atas tuduhan perkosaan diperkirakan terjadi pada Oktober.
 
Pemerasan, seks, dan kasus narkoba yang terkait dengan biksu telah mengejutkan publik, dan pihak berwenang tahun lalu. Insiden ini melontarkan gagasan untuk memperkenalkan kartu pengenal digital untuk melacak pendeta yang terlibat kasus kriminal.
 
Pada Mei kepala biara 'Golden Mount' di Bangkok menyerahkan diri kepada polisi setelah ditemukan uang sebesar USD4 juta di rekening bank atas namanya. Polisi juga menyelidiki apakah jutaan dolar di bawah kendali Kantor Nasional Buddhisme telah disalahgunakan.
 
Dalam sebuah kasus yang terkenal pada bulan Februari 2017, pasukan mengepung kuil sebuah sekte Dhammakaya yang sangat besar di pinggiran Bangkok selama berminggu-minggu. Polisi berupaya untuk menemukan dan menahan kepala biara yang kontroversial, yang tetap berkeliaran meskipun ada tuduhan penipuan besar-besaran.


(FJR)