Truk Lindas Tapak Nazca Kuno Peru, Sopir Dipenjara

Arpan Rahman    •    Jumat, 02 Feb 2018 10:19 WIB
peristiwa unik
Truk Lindas Tapak Nazca Kuno Peru, Sopir Dipenjara
Tapak Nazca kuno di Peru yang dilindas truk (Foto: AFP).

Lima: Tapak Nazca kuno Peru rusak saat seorang supir tanpa sengaja melajukan truk kargonya ke situs arkeologi yang rentan itu di padang pasir.
 
Garis-garis tapak tersebut, yang termasuk sebagai situs Warisan Dunia UNESCO, berupa gambar hewan dan tumbuhan yang sangat besar yang terukir di tanah sekitar 2.000 tahun yang lalu sisa peninggalan peradaban pra-Inca. Sisa sejarah itu paling bagus dilihat dari langit.
 
"Sopir mengabaikan tanda-tanda peringatan saat memasuki zona arkeologi Nazca pada 27 Januari," kata Kementerian Kebudayaan Peru dalam sebuah pernyataan.
 
"Truk tersebut meninggalkan cetakan dalam area seluas sekitar 100 meter, merusak bagian dari tiga geoglif berbaris lurus," bunyi pernyataan tersebut, seperti dinukil Japan Times, Kamis 1 Februari 2018.
 
Penjaga keamanan menahan pengemudi dan mengajukan tuntutan terhadapnya di kantor polisi setempat, pernyataan tersebut menambahkan.
 
Memasuki daerah ini sangat dilarang karena kerapuhan tanah di sekitar tapak. Akses hanya diperbolehkan dengan mengenakan roda gigi berlapis busa khusus, menurut pihak berwenang Peru.
 
Jalur tersebut melintasi gurun Peru lebih dari 500 kilometer persegi. Dibuat antara 500 SM sampai 500 Masehi oleh orang-orang Nazca, situs telah lama dipelihara arkeolog karena misteri ukuran dan gambar yang sangat rinci.
 
Beberapa gambar melukiskan makhluk hidup, yang lain bergaya tanaman atau makhluk fantastis, yang lain adalah sosok geometris yang membentang sejauh beberapa kilometer.
 
Ini bukan pertama kalinya garis Nazca rusak dalam beberapa tahun terakhir. Pada September 2015 seorang pria ditahan setelah memasuki situs tersebut dan menulis namanya di salah satu geoglif.
 
Pada Desember 2014, aktivis Greenpeace mencoreng huruf besar di samping salah satu desain, yang dikenal sebagai Hummingbird, yang berbunyi: "Waktunya untuk perubahan! Masa depan bisa diperbaharui. "
 
Protes tersebut membuat reaksi marah dari Peru, yang pada saat itu menjadi tuan rumah perundingan PBB bertujuan membatasi pemanasan global.



(FJR)