Paleontolog Temukan Fosil Bayi Burung Zaman Cretaceous

Arpan Rahman    •    Minggu, 11 Jun 2017 18:53 WIB
fosil binatang purba
Paleontolog Temukan Fosil Bayi Burung Zaman Cretaceous
Seekor burung kecil dari zaman purba terperangkap dalam getah pohon yang mengeras menjadi fosil atau biasa disebut amber. (Foto: Chinese Academy of Sciences)

Metrotvnews.com, Ottawa: Para ilmuwan menemukan sisa-sisa bayi burung zaman Cretaceous di dalam getah pohon atau resin berusia 99 juta tahun yang telah menjadi fosil (amber). Resin fosil itu ditemukan di Myanmar dan dibeli ilmuwan dari pemburu lokal.

Bayi burung tersebut diperkirakan terperangkap amber beberapa hari setelah menetas. Resin mengeras menjadi kuning, dan mengawetkan burung mungil tersebut, lengkap dengan bagian tulang leher, cakar, sayap, dan rahang. 

Pakar paleontologi mengatakan spesimen itu termasuk dalam kelompok burung yang disebut Enantiornithes, yang hilang bersamaan dengan lenyapnya dinosaurus sekitar 65 juta tahun lalu.

"Enantiornithines adalah kerabat dekat dengan burung modern, dan pada umumnya, mereka akan terlihat sangat mirip. Namun, kelompok burung ini masih memiliki gigi dan cakar di sayap mereka," kata Ryan McKellar, ahli paleontologi di Royal Saskatchewan Museum di Kanada kepada Washington Post.

Bulu burung yang baru lahir -- kombinasi warna abu-abu putih, coklat, dan abu-abu -- mungkin tidak dapat menghasilkan atau mempertahankan kemampuan terbang, kata para periset. Tapi penemuan Enantiornithine sebelumnya menunjukkan bahwa unggas ini mampu terbang.

Burung-burung itu lahir dalam lansekap berbahaya tanpa banyak bantuan dari induk mereka. Ilmuwan meyakini bayi Enantiornithines menetas di tanah dan harus segera diselamatkan ke pohon terdekat demi menghindari predator. 

"Tukik mungkin sudah mati pada saat terjebak dalam resin," kata McKellar, seperti dikutip UPI, Jumat 9 Juni 2017. "Salah satu tulang kakinya telah terseret menjauh dari posisi alami, menunjukkan bahwa jasad tersebut mungkin telah dirusak predator sebelum tertutupi aliran getah resin berikutnya."

Burung tersebut dapat diidentifikasi dengan mengamati cakar kakinya. 

"Saya pikir kami memiliki sepasang kaki dan beberapa bulu sebelum menjalani pencitraan CT. Ini adalah kejutan besar dari yang terbesar yang pernah ada," kata Lida Xing dari Universitas Geosains China kepada National Geographic.

"Kejutan berlanjut saat kami mulai memeriksa distribusi bulu, dan dan menyadari bahwa ada lembaran tembus kulit yang menghubungkan banyak daerah tubuh yang muncul dalam data CT scan," kata McKellar.

Penemuan burung purba ini dirilis di jurnal Gondwana Research.


(WIL)

Lebih Berbahaya Bepergian ke Eropa Daripada ke Suriah

Lebih Berbahaya Bepergian ke Eropa Daripada ke Suriah

39 minutes Ago

Serangan teror yang semakin meningkat di Benua Eropa beberapa tahun terakhir menjadi kekhawatiran…

BERITA LAINNYA