Foto 'Pembunuh Turki' Menangkan Penghargaan World Press Photo

Arpan Rahman    •    Selasa, 14 Feb 2017 18:09 WIB
peristiwa unik
Foto 'Pembunuh Turki' Menangkan Penghargaan World Press Photo
Penembakan Dubes Rusia untuk Turki Andresy Karlov Desember 2016 lalu (Foto: AFP).

Metrotvnews.com, Amsterdam: Seorang polisi yang bebas tugas, baru saja membunuh duta besar Rusia untuk Turki, sedang berdiri memegang senjata. 
 
Di depannya, Burhan Ozbilici, fotografer veteran Associated Press memperlihatkan ketenangan untuk tetap berdiri di tempat dan terus mengambil gambar.

(Baca: Dubes Rusia untuk Ankara Ditembak Mati Pria tak Dikenal).
 
"Saya segera memutuskan untuk bekerja karena saya bisa terluka, mungkin mati, tapi setidaknya saya harus menunjukkan jurnalisme yang baik," kata Ozbilici, Senin 13 Februari 2017.
 
Fotonya memotret penembak Mevlut Mert Altintas berdiri di dekat tubuh terkapar Dubes Andrei Karlov memenangkan World Press Photo of the Year.
 
Foto karya Ozbilici segera terbit setelah pembunuhan politik tersebut menjadi bagian dari serial berjudul "Sebuah Pembunuhan di Turki" yang juga memenangkan kategori Spot News – Stories di ajang penghargaan bergengsi ini. Foto tersebut diambil pada saat sebelum dan sesudah Altintas menarik pelatuk dan menembak Karlov di sebuah galeri di Ankara pada 19 Desember
 
"Foto istimewa Burhan adalah hasil dari keterampilan dan pengalaman, ketenangan di bawah tekanan yang ekstrim, dan dedikasi dan rasa akan misi yang menandai wartawan Associated Press di seluruh dunia," kata Executive Editor Associated Press, Sally Buzbee. 
 
"Kami sangat bangga dengan prestasinya," imbuh Buzbee, seperti dikutip AFP, Selasa 14 Februari 2017.
 
Dalam foto juara itu, sang pembunuh memakai jas dan dasi, berdiri menantang, pistol di tangan kanannya terarah ke bawah dan tangan kirinya terangkat, jari telunjuknya menunjuk ke atas. Mulutnya terbuka lebar saat ia berteriak marah. Tubuh duta besar yang mati tergeletak di lantai tepat di belakang Altintas.
 
Mondar-mandir di dekat tubuh korbannya, pria bersenjata itu muncul untuk mengutuk peran militer Rusia di Suriah. "Jangan lupa Aleppo! Jangan lupakan Suriah!" teriaknya.
 
Altintas, yang adalah seorang polisi, kemudian tewas dalam baku tembak dengan polisi Turki.
 
Ozbilici mengaku naluri profesional seketika menyentak kesadarannya begitu adegan mengejutkan berlangsung di depan mata. Mengumpulkan nyali untuk terus memotret, dia berkata: "Saya mengerti: inilah sejarah besar, itu sejarah, insiden yang sangat, sangat penting."
 
Foto pemenang diumumkan, Senin, di antara 80.408 foto yang dikirimkan ke kompetisi bergengsi itu oleh 5.034 fotografer dari 125 negara. Juri The World Press memberi hadiah dalam delapan kategori untuk 45 fotografer asal 25 negara.
 
Ketua juri Stuart Franklin menyebut foto Ozbilici "sebuah berita foto yang memukul sangat keras" dan bagian dari serial kuat yang mendokumentasikan pembunuhan.
 
"Saya pikir Burhan sangat berani dan memiliki ketenangan yang luar biasa untuk dapat menenangkan dirinya di tengah-tengah keributan dan mengambil gambar yang harus dia ambil," kata Franklin, seperti dilansir Denver Post, Selasa 14 Februari. 
 
Jonathan Bachman dari Amerika Serikat (AS), fotografer untuk Thomson Reuters, memenangkan kategori Contemporary Issues – Singles dengan gambar Ieshia Evans ditawan di Baton Rouge selama protes 9 Juli atas kematian Alton Sterling, pria kulit hitam yang dibunuh polisi. Evans berdiri tegak dengan gaun mengembang di antara dua petugas polisi berpelindung tubuh dan berhelm yang membekuknya ke tahanan.
 
Franklin menyebut citra Bachman "semacam komentar tak terlupakan akan perlawanan pasif. Ini benar-benar sebuah foto yang indah. Anda tidak akan pernah melupakannya. "
 
Fotografer Associated Press Vadim Ghirda, berbasis di Rumania, memenangkan hadiah kedua dalam kategori ini dengan foto emosional imigran menyeberangi sungai saat mereka berupaya mencapai Makedonia dari Yunani.
 
Pertama kalinya, penghargaan World Press Photo diumumkan bersamaan dengan Digital Storytelling dalam kategori Cerita Bertutur Inovatif, Cerita Bertutur Imersif, Berita Panjang dan Berita Pendek.
 
Para pemenang penghargaan digital meliput sejumlah isu, termasuk hubungan modern, munculnya tembok dan pagar di seluruh dunia, dan kisah seorang petinju Amerika dari Flint, Michigan. Di antara media yang karyanya dihadiahi adalah New York Times, Washington Post, dan produsen media independen yang lebih kecil.

(FJR)