Mabuk di Kokpit Sebelum Lepas Landas, Pilot Terancam Penjara

Arpan Rahman    •    Rabu, 22 Mar 2017 19:06 WIB
peristiwa unik
Mabuk di Kokpit Sebelum Lepas Landas, Pilot Terancam Penjara
Pilot penerbangan Sunwing didakwa menerbangan pesawat dalam kondisi mabuk (Foto: Metro.co.uk).

Metrotvnews.com, Calgary: Seorang pilot yang teler di kokpit sebelum penerbangan terjadwal di Kanada telah mengaku bersalah sedang mabuk saat mengendalikan pesawat.
 
Penerbangan itu dikapteni oleh Miroslav Gronych, yang dipekerjakan oleh operator penerbangan murah Sunwing Airlines dengan visa kerja Slowakia. Pesawat hendak mengudara dari Calgary, Alberta, pada 31 Desember, dengan transit di Regina, Saskatchewan, dan Winnipeg, Manitoba, sebelum berlanjut ke Cancun, Meksiko.
 
Tapi sebelum terbang, Gronych, 37, ditemukan merosot di kursinya, lantas dikawal turun dari pesawat. Kadar alkohol ditemukan dalam darahnya tiga kali di ambang batas menurut aturan.
 
"Saya malah tidak bisa menjelaskan bagaimana malunya saya," katanya di depan pengadilan di Calgary, seperti dikutip metro.co.uk, Rabu 22 Maret 2017. 
 
"Anak-anak saya akan disanksi karena kesalahan saya," imbuh Gronych.
 
Sebuah pernyataan dari fakta-fakta yang disepakati oleh penuntut dan pembela serta dibacakan di pengadilan menyebutkan, polisi melihat tanda sayap pilotnya yang melekat terbalik di seragamnya dan seorang pelayan menemukan botol kosong vodka di kamar hotelnya.
 
Ia juga katakan, terlambat satu jam untuk melapor dan bahwa ia menjelaskan keterlambatannya dengan berkata 'lupa' ketika melewati keamanan.
 
Ketika Gronych naik pesawat sekitar pukul 07:00, pengadilan menyebut, dia susah-payah menggantung mantelnya, kata sambutannya pun menceracau dan mengejutkan.
 
Ketika ko-pilot menyadari kondisi Gronych kacau dan harus meninggalkan pesawat, dia tampak sangat acuh tak acuh dan berkata, "Baiklah, kalau itu yang Anda rasakan".'
 
Tapi Gronych kembali ke kokpit, duduk di kursi pilot, dan tampaknya teler, 'wajahnya menempel di jendela', kata pernyataan itu.
 
Dia diminta kembali meninggalkan pesawat dan ditahan oleh petugas bandara sampai polisi datang.
 
Pernyataan itu mengatakan, para penumpang di pesawat diberitahu pilot tiba-tiba sakit, tetapi beberapa sudah melihatnya, dan menduga dia mabuk.
 
Ketika polisi datang, mereka menemukan sayap pilotnya yang tersemat ternyata terbalik, berbau alkohol di napasnya. Polisi melihat dia tidak bisa berdiri tegak.
 
Pembela Susan Karpa berkata kepada pengadilan, Gronych tidak bisa tidur malam sebelum penerbangan dan merasa seperti mau demam.
 
Dia mereguk vodka dan mengasup tablet Tylenol pereda nyeri dan berencana bangun tepat waktu untuk memberitahu bahwa dia tidak bisa terbang. Gronych tidak mengatur alarmnya dan terbangun oleh panggilan yang menanyakan di mana dia, kata Karpa. Dia minum sisa botol vodka, lalu berangkat.
 
Pembelanya berkata, terdakwa tidak tahu mengapa ia minum vodka, yang justru membuat tenaganya loyo. Pembela meminta keringanan hukuman penjara 3-6 bulan, sementara jaksa mengajukan tuntutan kepada hakim untuk jangka satu tahun.
 
Jaksa Rose Greenwood merujuk kasus serupa di Amerika Serikat (AS) di mana pilot menerima lima tahun. "Gronych menempatkan kehidupan 105 orang dalam risiko," katanya. "Semoga dia tidak akan diizinkan untuk terbang lagi," tegas Greenwood.
 
Karpa katakan, Gronych telah dirawat sementara dengan jaminan dan sudah bebas dari alkohol. "Dia ingin anak-anaknya menjadi bangga padanya," katanya. "Dia ingin melakukan semua yang dia bisa untuk menaklukkan kecanduan."
 
Dia mengatakan, Gronych satu-satunya pencari nafkah bagi keluarganya, termasuk orang tua, yang hidup dari tabungannya.
 
Sebuah pernyataan dari istri Gronych dibacakan di pengadilan menyatakan suaminya tidak minum sepanjang waktu, tetapi ketika dia melakukannya, memang jumlahnya banyak.
 
Gronych, sambil menangis, mengaku kepada pengadilan menjadi pilot adalah mimpi masa kecilnya.
 
Ia diserahkan dalam tahanan, sementara hakim menimbang hukumannya. Dia kembali dihadapkan ke pengadilan pada 3 April.
 
Juru bicara Sunwing Jacqueline Grossman mengatakan Gronych, pilot kontrak, dipecat oleh majikannya, Travel Service, tak lama setelah dipergoki mabuk. Jubir itu menolak berkomentar atas kasus ini. Namun mengatakan, Sunwing telah membentuk sebuah komite, termasuk manajemen dan anggota serikat pekerja untuk meninjau dan  memperbarui protokol.
 
Para anggota mencakup awak pesawat dilarang di bawah hukum penerbangan Kanada untuk bekerja bila dalam delapan jam mengonsumsi alkohol atau sedang di bawah pengaruhnya.
 
Sunwing mengaku memiliki kebijakan toleransi nol pada awak yang mengkonsumsi alkohol  dalam waktu 12 jam untuk bertugas dan melatih semua karyawan agar melaporkan setiap perilaku yang ganjil.
 
Setelah Gronych didakwa, Asosiasi Pilot Federal Kanada (CFPA) menyatakan, Transport Canada harus bertanggung jawab memeriksa surat kepercayaan dari pilot asing bukannya menyerahkan urusannya ke operator udara.
 
Vietnam Larang Alat Pengontrol Tidur
 
Terpisah, otoritas penerbangan Vietnam telah membekukan tiga pengendali lalu lintas udara, termasuk satu yang tidur saat bertugas, karena menyebabkan tertundanya dua penerbangan.
 
Otoritas Penerbangan Sipil Vietnam (CAAV) mengatakan, telah merekomendasikan alat pengontrol tidur dan alat pengontrol lainnya supaya juga didenda.
 
Harian daring Dan Tri melaporkan, para awak pada dua penerbangan -- satu berangkat dan satu mendarat -- tidak bisa menghubungi kontrol lalu lintas udara di bandara Cat Bi di utara kota Hai Phong selama 33 menit pada 9 Maret.
 
Harian itu mengatakan, seorang pengontrol tidak ada, sementara pengontrol utama lalu lintas udara sedang tidur. Seorang teknisi juga dipecat. Tapi penerbangan bermasalah itu akhirnya mendarat dengan selamat.



(FJR)