Studi Oxford Klaim Berhasil Menguak Misteri Stonehenge

Arpan Rahman    •    Sabtu, 04 Aug 2018 19:09 WIB
peristiwa uniksitus bersejarah
Studi Oxford Klaim Berhasil Menguak Misteri Stonehenge
Formasi batu Stonehenge. (Foto: Leon Neal/AFP/Getty Images)

London: Misteri kuno mengenai siapa yang membangun formasi batu Stonehenge telah dipecahkan, menurut klaim dari sebuah studi di Universitas Oxford.

Analisis baru yang inovatif dari 25 jasad terkubur di Stonehenge di Wiltshire, Britania, itu telah mengungkapkan bahwa 10 dari mereka sama sekali tidak tinggal di dekat bluestones (batuan konstruksi Stonehenge).

Sepuluh orang itu diyakini berasal dari Britania barat, dan setengah dari 10 jenazah itu mungkin berasal dari area di barat-daya Wales (di mana monumen Stonehenge paling awal juga sudah ditelusuri kembali).

Sementara sisa 15 penduduk lokal diyakini berasal dari Wiltshire atau merupakan keturunan imigran dari Barat.

Terobosan utama dalam studi ini adalah bahwa suhu kremasi yang tinggi dapat membuat tengkorak manusia menjadi terkristalisasi, dan menyimpan sinyal kimia dari asal muasalnya.

Meskipun tim ilmuwan Oxford tidak dapat menjamin bahwa sisa-sisa jasad itu adalah yang membangun monumen, catatan kremasi dideskripsikan sebagai mendekati tanggal bluestones dibawa untuk disusun hingga membentuk lingkaran batu.

Studi baru, yang diterbitkan dalam jurnal Scientific Reports, menunjukkan bahwa baik orang maupun materi bangunan Stonehenge didistribusikan antar wilayah sekitar 5.000 tahun silam.

Ketika mereka meninggal, sisa-sisa kremasi ditempatkan di bawah monumen kuno di tempat yang sekarang bernama Wiltshire. Tulang-belulang paling awal bertanggal sekitar 3.000 SM.

Komunitas Pembangun Stonehenge

"Kisaran penanggalan meningkatkan kemungkinan bahwa selama berabad-abad, orang bisa dibawa ke Stonehenge untuk dimakamkan di balik batu," kata John Pouncett, penulis utama studi ini, seperti dikutip dari Fox News, Sabtu 4 Agustus 2018.

Rekan Pouncett, Dr. Christophe Snoeck, mendemonstrasikan bahwa tulang yang dikremasi tetap mempertahankan komposisi isotop strontiumnya.

Dia mengatakan bahwa "sekitar 40 persen dari individu yang dikremasi tidak menghabiskan hidup mereka dalam bebatuan kapur Wessex, tempat sisa-sisa jenazah mereka ditemukan."

Sisa-sisa kremasi dari Stonehenge pertama kali digali Kolonel William Hawley pada tahun 1920-an dari jaringan 56 lubang bertitik di sekitar lingkar dalam dan parit monumen, yang dikenal sebagai Aubrey Holes.

Hawley kemudian memakamkan kembali mereka di situs itu untuk digali di kemudian hari.

Pouncett, petugas teknologi spasial di Sekolah Arkeologi Oxford, mengatakan bahwa penelitian ini "memberi kita wawasan baru mengenai komunitas yang membangun Stonehenge".

"Sisa-sisa kremasi dari Aubrey Holes yang penuh teka-teki dan pemetaan biosfer yang diperbarui menunjukkan bahwa orang-orang dari Pegunungan Preseli tidak hanya memasok bluestones yang digunakan untuk membangun lingkaran batu, tetapi bergerak dengan batu-batu itu dan dikubur di sana juga," tambah dia.


(WIL)