Kuil Budha Myanmar Kini Menjadi Surga bagi Ular

Arpan Rahman    •    Jumat, 19 Oct 2018 09:06 WIB
peristiwa unik
Kuil Budha Myanmar Kini Menjadi Surga bagi Ular
Sebuah patung Budha dengan seekor ular melata di bawahnya. (Foto: AFP).

Yangon: Menyeberangi sebuah jembatan ke tengah danau di wilayah Yangon Myanmar, para jemaah tiba di sebuah kuil untuk menabur harapan mereka pada ular piton yang melata di lantai kuil dan menyelinap jendela.
 
"Orang-orang datang ke sini karena mereka percaya bahwa doa-doa mereka akan terpenuhi ketika mereka meminta sesuatu," kata Sandar Thiri, biarawati yang tinggal di pagoda Baungdawgyoke -- dijuluki "kuil ular" oleh penduduk setempat.
 
"Aturannya adalah bahwa orang hanya dapat meminta satu hal, tidak banyak hal. Jangan serakah," katanya, seperti dinukil dari AFP, Jumat, 19 Oktober 2018.
 
Banyak penduduk setempat menganggap kehadiran puluhan ular piton, beberapa berukuran hingga dua atau tiga meter panjangnya, sebagai tanda kekuatan pagoda.
 
Win Myint, 45, mengatakan telah datang ke Baungdawgyoke sejak masih kecil.
 
Di ruang utama kuil terdapat pohon dengan patung-patung Buddha di sekitarnya. Ular-ular bergerak perlahan melewati dahan-dahan, lidah-lidah mereka yang bercabang melesat keluar-masuk ketika mereka memandang para jemaat bersujud.
 
"Sekarang saya lebih tua dan saya datang untuk memberikan persembahan, yang telah membuat beberapa harapan saya menjadi kenyataan," cetusnya.
 
Di dekatnya, seorang biksu tidur di kursi dengan dua ular melengkung di kakinya, tubuh gemuk mereka memegang 1.000 kyat (berharga sekitar 60 sen dolar Amerika) yang diselipkan di antara gulungan kitab oleh pengunjung yang berharap. Seorang wanita, yang cukup berani mendekati ular piton, dengan lembut mengusapnya.
 
"Naga" mitologis -- sebuah kata Sansekerta untuk ular -- adalah sosok biasa yang terlihat di kuil-kuil di seluruh Asia Tenggara, di mana pengaruh Budha, Hindu, dan animisme saling berkelindan. Naga biasanya diukir dari batu dan ditempatkan di pintu masuk.
 
Tapi ular hidup melata terlihat di antara patung Budha langka, dan berfungsi sebagai lukisan kala mengunjungi Baungdawgyoke -- sebuah perjalanan singkat ke barat daya pusat kota Yangon.
 
Beberapa ular bergelung di samping biarawan yang bermeditasi, gambar ini mengingatkan kita pada sebuah cerita dalam mitologi Budha ketika Sang Budha duduk di bawah pohon untuk bertapa. Menurut legenda, saat hujan mulai turun, seekor ular kobra melindungi Budha dengan mengembangkan tudung lebar di atas kepalanya berfungsi sebagai tempat berlindung.
 
Nay Myo Thu, petani berusia 30 tahun, percaya dia akan menerima nasib baik dengan membawa ular yang dia temukan di ladangnya ke kuil bukannya membunuhnya, mengikuti keyakinan Budha bahwa semua hewan adalah makhluk hidup yang dapat bereinkarnasi sebagai manusia.
 
"Saya tidak ingin membawa malapetaka dengan membunuh makhluk," kata Nay Myo Thu. "Penangkapan dan donasi ular membawa saya nasib baik sebagai gantinya," pungkas dia.


(FJR)