Bekukan 5.000 Ikan, Arena Ice Skating di Jepang Dikecam

Arpan Rahman    •    Senin, 28 Nov 2016 20:10 WIB
satwa
Bekukan 5.000 Ikan, Arena <i>Ice Skating</i> di Jepang Dikecam
Ribuan ikan dibekukan di arena ice skating Space World. (Foto: AFP)

Metrotvnews.com, Kitakyushu: Sebuah arena bermain sepatu luncur di atas lintasan es (ice skating) di Jepang berbeda dari yang lain, karena menghadirkan 5.000 ikan mati dalam keadaan beku. Konon ikan-ikan mati itu sengaja dibekukan untuk menarik minat pengunjung. Alih-alih demikian, arean tersebut justru diserang gelombang kritik. 

Taman hiburan Space World kini mencairkan gelanggang es tersebut -- yang bisa memakan waktu sekitar satu pekan -- dan akan mengadakan peringatan khusus untuk ikan-ikan bernasib malang tersebut. 

Arena di barat daya Jepang itu dibuka pada 12 November, dihiasi 5.000 ikan beku di bawah permukaan es sebagai efek dekoratif. Pihak pengelola ingin agar pelanggan dapat menikmati pemandangan indah di bawah mereka sambil berseluncur. 

"Tapi konsep itu dikecam tidak etis dan gelanggang di kota Kitakyushu terpaksa ditutup pada Minggu 27 November," kata juru bicara Space World, Koji Shibata.

"Kami menerima suara-suara kritis yang mengatakan tidak baik memakai makhluk hidup sebagai mainan, dan adalah keburukan karena membiarkan makanan sia-sia," katanya kepada AFP, Senin (28/11/2016).


Ribuan ikan dibekukan di arena ice skating Space World. (Foto: Space World)

Media sosial Jepang mengkritik keberadaan arean tersebut. Seorang pengunjung laman Facebook menulis: "Sebuah gelanggang es penuh dengan ikan beku... Sungguh perbuatan dosa."

"Ini bukan soal pribadi tetapi masalah sosial. Mereka membuat makanan menjadi mainan, di mana anak-anak datang dan bermain," kata pengguna media sosial lainnya.

Shibata berkata, ikan yang dibekukan semua sudah mati pada saat dibeli dan dianggap tidak layak jual di pasar. "Secara internal kami akan melakukan diskusi atas moralitas ide ini sebelum arena dibuka kembali," katanya.

Toshimi Takeda, manajer umum dari Space World, mengatakan pihaknya ingin agar pelanggan dapat berseluncur sambil belajar mengenai beragam jenis ikan. 

"Kami ingin pelanggan mengalami perasaan meluncur di laut, tapi setelah menerima kritik, kami memutuskan bahwa kami tidak bisa mengoperasikannya lagi", katanya.

"Kami berencana mengadakan upacara peringatan untuk ikan-ikan itu, mengundang seorang pendeta Shinto, yang sudah kita rencanakan sebelum datangnya kritik," pungkas Takeda.


(WIL)