Pemburu Binasakan Hampir Setengah Hewan Langka di Situs Warisan Dunia

Arpan Rahman    •    Rabu, 19 Apr 2017 08:43 WIB
peristiwa unik
Pemburu Binasakan Hampir Setengah Hewan Langka di Situs Warisan Dunia
Harimau kerap jadi incaran para pemburu (Foto: Rex).

Metrotvnews.com, London: Hampir setengah dari seluruh situs alami Warisan Dunia di planet ini sedang dimusnahkan oleh para pemburu yang mengincar sejumlah hewan langka yang terancam kepunahan, menurut sebuah laporan terbaru.
 
Perdagangan satwa liar diperkirakan bernilai USD18,45 triliun, menjadi perdagangan kriminal terbesar keempat internasional setelah narkoba, senjata, dan perdagangan manusia, menurut  laporan 'Not For Sale'.

Penebangan liar dan penangkapan ikan juga terjadi pada skala hebat. Penebangan liar pepohonan -- suatu perdagangan senilai antara USD30 miliar hingga USD100 miliar per tahun -- diperkirakan mencapai 90 persen deforestasi di negara-negara tropis utama.
 
Menurut salinan bocoran dari pidato oleh seorang pejabat senior Kementerian Luar Negeri Inggris, sejumlah pekerjaan pemerintah soal perdagangan satwa liar ilegal akan 'memperkecil' perdagangan sementara pertumbuhan ekonomi mendapat prioritas sesudah Inggris meninggalkan Uni Eropa.
 
Namun laporan WWF mengatakan bahwa jarang pemerintah, PBB dan lain-lain mengambil 'tindakan segera' demi mengatasi perburuan luas, hingga “beberapa spesies mungkin menghadapi kepunahan lokal dan beberapa situs Warisan Dunia bisa kehilangan nilai universal yang luar biasa” -- sebagai definisi mengapa spesies dan situs itu dianggap istimewa.
 
Dikatakan, spesies yang terancam seperti gajah, badak, dan harimau sedang 'dipanen secara ilegal' dalam 45 persen dari situs Warisan Dunia, 'puncak kawasan lindung di dunia'.
 
"Perburuan gajah terjadi di lebih dari 60 persen dari situs Warisan Dunia yang meliputi gajah Afrika dan Asia," kata laporan tersebut.
 
"Selous Game Reserve di Tanzania telah kehilangan hampir 90 persen dari gajahnya sejak dibuka pada 1982 dan sekarang hanya memiliki 15.217 gajah yang tersisa," bunyi laporan itu lebih lanjut, seperti dikutip The Independent, Selasa 18 April 2017. 
 
Delta Okavango, sebuah situs Warisan Dunia di Botswana, di mana pemburu sedang ramai, digambarkan sebagai 'habitat penting' bagi gajah di Botswana utara, yang menampung hampir sepertiga gajah Afrika yang tersisa.
 
Sekitar sepertiga dari sisa 3.890 harimau liar di seluruh dunia sekarang hidup di situs Warisan Dunia. Upaya menghentikan para pemburu terbilang sulit dan berbahaya. Banyak dari mereka yang siap menggunakan kekuatan mematikan.
 
"Perdagangan satwa juga sering membahayakan kehidupan masyarakat, dan antara 2009 hingga 2016 setidaknya 595 penjaga tewas dalam menjalankan tugas, banyak dari mereka yang melindungi situs Warisan Dunia," kata laporan itu.
 
"Perburuan itu membahayakan warisan masa depan di segala tempat yang bernilai dan orang-orang yang mata pencahariannya bergantung pada itu semua," kata Chris Gee, kepala kampanye di WWF-Inggris. 
 
"Tahun depan London akan menjadi tuan rumah Konferensi Keempat Perdagangan Ilegal Satwa, pemerintah Inggris harus mendukung upaya mengakhiri perdagangan menghancurkan ini," katanya.
 
"Sekarang bukan waktu untuk mengabaikan masalah ini. Sejumlah temuan telah menunjukkan bahwa masa depan banyak spesies kita yang paling terancam punah adalah masalah hidup dan mati," cetusnya.
 
John Scanlon, sekretaris jenderal Konvensi Perdagangan Internasional Spesies Flora dan Fauna Terancam Punah (CITES), mengatakan hal 'penting' bahwa konvensi 'sepenuhnya diterapkan dan bahwa situs-situs yang tak tergantikan sepenuhnya dilindungi'.
 
"Dengan demikian, kita akan mendapatkan keuntungan dari warisan kita dan satwa liar kita, memberikan keamanan kepada masyarakat di berbagai tempat, dan mendukung ekonomi nasional dan masyarakat pedesaan yang bergantung pada situs ini demi mata pencaharian mereka," katanya.
 
Di antara beberapa tanda positif bahwa dunia sedang mencoba menangani masalah ini, laporan tersebut menyoroti keputusan Tiongkok melarang perdagangan gading pada akhir tahun ini sebagai 'terobosan' yang bisa 'memberi momentum kuat bagi negara-negara lain buat mengikutinya'.
 
Tapi dikatakan lebih banyak dana yang dibutuhkan dengan anggaran inti CIES berkisar sekitar USD6 juta setahun -- kontras dengan miliaran dolar yang diraup oleh pemburu.
 
"Laporan ini adalah pengingat serius soal seberapa jauh yang bisa dicapai jenis kejahatan terorganisir ini, memanjang bahkan sampai ke dalam situs Warisan Dunia," ujar 
Inger Andersen, direktur jenderal Uni Internasional untuk Konservasi Alam (IUCN). 
 
"Ini adalah tantangan global yang hanya dapat diatasi melalui tindakan kolektif internasional," pungkasnya.

(FJR)