4,5 Persen Kematian di Belanda Disebabkan oleh Euthanasia

Arpan Rahman    •    Kamis, 03 Aug 2017 21:07 WIB
unik
4,5 Persen Kematian di Belanda Disebabkan oleh Euthanasia
Ilustrasi Metrotvnews.com

Metrotvnews.com, Den Haag: Euthanasia sudah menjadi 'praktik umum' di Belanda, terhitung 4,5 persen kematian diakibatkan prosedur ini. Menurut para periset yang mengatakan bahwa permintaan meningkat dari orang-orang yang tidak sakit parah.
 
Pada 2002, Belanda menjadi negara pertama di dunia yang menetapkan hukum bagi dokter untuk suntik mati. Baik euthanasia, di mana dokter secara aktif membunuh pasien dan membantu bunuh diri. 
 
Di mana dokter meresepkan pasien dengan dosis mematikan obat-obatan terlarang, orang harus 'menderita tak tertahankan' tanpa harapan lega -- tapi kondisinya tidak harus berakibat fatal.
 
"Sepertinya pasien sekarang lebih bersedia untuk meminta euthanasia dan dokter bersedia memberikannya," kata pemimpin penulis Dr. Agnes van der Heide dari Erasmus University Medical Center di Rotterdam.
 
Kajian 25 tahun yang diterbitkan dalam New England Journal of Medicine, Kamis 3 Agustus 2017, didasarkan pada kuesioner dokter. Penggunaan euthanasia dan bunuh diri yang dibantu "untuk meringankan penderitaan akhir hidup telah menjadi praktik umum di Belanda," kata para penulis dalam laporan.
 
Kajian tersebut menunjukkan bahwa pada 1990, sebelum legal, 1,7 persen kematian berasal dari euthanasia atau dibantu bunuh diri. Itu meningkat menjadi 4,5 persen pada 2015. Sebagian besar -- 92 persen -- memiliki penyakit serius dan sisanya memiliki masalah kesehatan sejak usia tua, demensia tahap awal atau masalah kejiwaan atau kombinasi. Lebih dari sepertiga dari mereka yang meninggal lebih dari 80 tahun.
 
Permintaan dari mereka yang tidak sakit parah masih merupakan bagian kecil, namun terus meningkat, kata Van der Heide.
 
"Bila dibantu sekarat menjadi pilihan yang lebih normal di penghujung kehidupan, ada risiko orang akan merasa lebih cenderung memintanya," katanya seperti dikutip CNN, Kamis 3 Agustus 2017.
 
Sekitar 8 persen orang yang meninggal pada 2015 meminta bantuan meninggal, telaah tersebut menunjukkan. Van der Heide mengatakan sekitar setengah dari semua permintaan disetujui sekarang, dibandingkan dengan sekitar sepertiga tahun sebelumnya.
 
Scott Kim, ahli bioetika di Institut Kesehatan Nasional Amerika Serikat (AS) yang bukan bagian dari penelitian ini, mengatakan bahwa laporan tersebut menimbulkan kekhawatiran. Terutama berkaitan dengan orang yang mencari euthanasia karena masalah terkait usia.
 
"Inilah orang tua yang mungkin memiliki masalah kesehatan, tapi tidak ada yang mengancam nyawa. Mereka sudah tua, mereka tidak bisa berkeliling, teman mereka sudah meninggal dan anak-anak mereka tidak berkunjung lagi," katanya. 
 
"Tren semacam ini berteriak untuk diskusi. Apa menurut kita hidup mereka masih berharga?" cetusnya.
 
Euthanasia juga legal di Belgia, Kanada, Kolombia dan Luksemburg. Swiss, Jerman dan enam negara bagian AS mengizinkan bunuh diri dengan bantuan.
 
Beberapa ahli mengatakan bahwa pengalaman euthanasia di Belanda menawarkan pelajaran ke negara lain yang memperdebatkan undang-undang serupa.
 
"Jika Anda melegalisasi secara luas (itu) yang dimiliki orang Belanda, maka kenaikan inilah apa yang Anda harapkan," kata Penney Lewis, ko-direktur Pusat Hukum dan Etika Medis di King's College London.
 
"Dokter menjadi lebih percaya diri dalam berlatih euthanasia dan lebih banyak pasien akan mulai memintanya," katanya. 
 
"Tanpa sistem yang lebih ketat, seperti yang Anda miliki di Oregon, Anda tentu akan melihat peningkatan," tuturnya.
 
Pada 1997, Oregon negara bagian pertama yang mengizinkan bunuh diri dengan bantuan dokter mereka yang diberi waktu enam bulan atau kurang untuk hidup. Sekarang hukum di Colorado, California, Montana, Vermont, Washington, dan District of Columbia.



(FJR)