Cacat akibat Perang, Tentara Afghanistan Cari Nafkah di Jalanan

Arpan Rahman    •    Selasa, 05 Sep 2017 16:13 WIB
talibanperistiwa unik
Cacat akibat Perang, Tentara Afghanistan Cari Nafkah di Jalanan
Pasien yang kehilangan kaki dalam perang menggunakan kaki palsu di RS Komite Palang Merah Internasional di Jalalabad, Afghanistan, 15 Agustus 2017. (Foto: AFP/NOORULLAH SHIRZADA)

Metrotvnews.com, Jalalabad: Karier prajurit Afghanistan Mehrullah Safi berakhir di provinsi Helmand selatan tahun lalu. Ledakan granat berpeluncur roket memutuskan kaki kanannya. Sekarang, dia berjualan kartu telepon genggam di jalan.

Puluhan ribu tentara Afghanistan menderita cacat sejak 16 tahun lalu, saat kampanye pimpinan Amerika Serikat dimulai untuk menggulingkan Taliban. Di jalan-jalan kota dan pasar seantero negeri, para tentara yang cacat menjadi bukti nyata kengerian perang.

"Itu hari terburuk dalam hidup saya. Kami terkepung belasan Taliban. Terjadi pertempuran berat, dan saya dalam kondisi buruk selama dua hari sampai saya dirawat ke rumah sakit," kata Safi, purnawirawan letnan Angkatan Darat, seperti disitir Reuters, Selasa 5 September 2017.

Kaki kiri dan tangannya juga hancur. Kaki Safi diamputasi di tengah medan perang. Sesudah delapan operasi gagal menyembuhkan kaki kirinya, dia berharap operasi kesembilan akan berhasil.

"Saya mengabdi pada negara dan saya tidak menyesal terluka. Tapi ketika saya melihat luka saya ternyata tidak bernilai bagi pemerintah, saya menyesali pengabdian itu," keluhnya.

Tambahan Penghasilan

Safi mengatakan dirinya menerima ganti rugi sebesar 184.000 afghani (USD2.690) akibat cacat dalam perang. Ia juga mendapat 10.500 afghani (USD153) setiap bulan.

Karena tidak bisa berjalan lagi, dia duduk di sebuah bilik kecil di pasar kota timur Jalalabad. Ia menambah pendapatannya sekitar 5.000 sampai 8.000 afghani dari usaha berjualan kartu perdana ponsel. 

"Saya membangun sebuah usaha kecil untuk memberi makan keluarga saya, tapi sekarang polisi pamong praja mengganggu saya di pasar. Keluarga menyalahkan saya karena telah menghancurkan hidup mereka," katanya. 

Tentara yang terluka biasanya mendapat gaji tahunan dan pensiun bulanan. Sekitar 130.000 militer dan sipil yang cacat sekarang menerima ganti rugi, kata juru bicara pemerintah Fatah Ahmadzai.

Namun para pejabat mengatakan, mereka tahu jumlah itu terlalu kecil bagi veteran yang jadi tulang punggung keluarga dengan lima orang atau lebih.

"Sebanyak apapun dukungan yang mampu kami berikan kepada para tentara kami yang cacat, hal itu tidak sebanding dengan penderitaan mereka," kata juru bicara Kementerian Pertahanan Afghanistan, Dawlat Waziri.

"Kementerian bekerja siang malam untuk menemukan cara menambah ganti rugi pada tentara kita. Tapi Afghanistan tidak punya uang buat menyelesaikan masalah ini sendiri," lanjut dia.

Terluka akibat Konflik

Di kala pasukan AS semakin memperkuat posisinya di Afghanistan dalam melawan Taliban, kemungkinan adanya tentara cacat yang baru semakin tinggi. 

"Keluarga sempat merayu saya agar meninggalkan ketentaraan saat pertama kali saya terluka, tapi saya menolak," kata Hayatullah Sahar, yang menderita dua luka parah sebelum beralih profesi menjadi supir taksi.

Tapi kenyataan pahit sulit dibendung, membuat banyak orang merasa begitu terluka karena konflik.

"Ketika saya mengingat kembali saat bergabung dengan tentara, saya menyesalinya dan menyalahkan diri sendiri," kata mantan tentara Riazullah, yang kehilangan dua kakinya kena bom pinggir jalan di provinsi tenggara Ghazni.

"Keluarga saya juga menyalahkan saya atas apa yang terjadi, tapi saya katakan pada anak-anak saya agar belajar. Suatu hari nanti, mereka akan mengerti arti dari apa yang telah saya lakukan bagi negara ini," pungkas dia.


(WIL)