Divonis 10 Bulan, Pria Ini Masih Dipenjara hingga 11 Tahun

Arpan Rahman    •    Minggu, 20 Nov 2016 23:17 WIB
peristiwa unik
Divonis 10 Bulan, Pria Ini Masih Dipenjara hingga 11 Tahun
Ilustrasi penjara di Inggris. (Foto: iStock)

Metrotvnews.com, London: Seorang pria yang divonis penjara 10 bulan ternyata masih berada di sel selama lebih dari 10 tahun. Ia merupakan satu dari sejumlah narapidana yang terkena aturan kontroversial yang telah dihapuskan di Inggris pada 2012.

Aturan dengan skema Penjara untuk Perlindungan Masyarakat (IPP) diperkenalkan pada 2005 dan dirancang bagi penjahat berisiko tinggi yang bertanggung jawab atas pelanggaran kekerasan dan kejahatan seksual serius.

Di bawah sistem ini, jika pada batas akhir hukuman mereka, level 'bahaya' narapidana dianggap belum berkurang signifikan, maka mereka akan tetap di penjara. Mereka baru bisa keluar jika bisa menyakinkan Dewan Pembebasan Bersyarat (Parole Board) bahwa mereka bisa hidup dengan damai di tengah masyarakat.

Skema dibatalkan pada 2012 oleh Menteri Kehakiman Ken Clarke. Aturan itu dinilai telah digunakan melampaui batas daripada yang dimaksudkan dan, dalam beberapa kasus, bahkan dipakai untuk sejumlah kejahatan ringan.

Hingga September, 3.859 tahanan masih ditahan setelah dijatuhi hukuman IPP. Sebanyak delapan lebih dari 10 tawanan sudah di luar batas akhir hukuman awal mereka. Dalam periode terpendek, mereka diperintahkan bekerja sukarela sebelum boleh mengajukan permohonan bebas.

Dua di antara lima tahanan IPP masih di balik jeruji besi lewat dari batas hukuman mereka yang berakhir pada Maret. Mereka harus bekerja sukarela setidaknya lima tahun lebih lama dari jangka minimum. Jumlah ini meliputi ratusan tahanan yang awalnya dihukum kurang dari dua tahun.

Dulu, James Ward baru 19 tahun ketika dihukum 10 bulan IPP dalam kasus pembakaran rumah dengan sengaja. Meskipun berulang kali mencoba meyakinkan Dewan Pembebasan Bersyarat agar dibebaskan, ia tetap dipenjara hingga hari ini -- 11 tahun lebih lama dari masa tahanan.

Adiknya, April Ward, berkata kepada Sky News: "Mereka mengatakan kepada James, 'Cukup berperilaku baik, lakukan program Anda, kembalilah mengajukan pembebasan bersyarat dan Anda akan dibebaskan'. Lalu James melakukan semua itu, kembali ke Dewan Pembebasan Bersyarat, dan mereka mengatakan dia perlu melakukan lebih banyak program. Hanya buang-buang uang saja buat dia bisa kembali pulang ke rumah untuk melanjutkan hidupnya."

"Dia seharusnya tidak dikenakan hukuman IPP karena kejahatannya tidak cukup signifikan," tambahnya seperti dilansir The Independent, Minggu (20/11/2016).

Sebuah laporan yang dirilis pekan ini menyebutkan "kegagalan yang signifikan" di penjara, masa percobaan, dan sistem pembebasan bersyarat berkontribusi terhadap besarnya jumlah narapidana yang masih dalam tahanan bertahun-tahun setelah batas akhir hukuman mereka.

Kepala Inspektur Penjara, Peter Clarke, menilai skema hukuman tersebut "cacat". "Namun, kini, (mereka yang ditahan) tingkatnya jauh lebih rendah dari risiko, kegagalan sistem telah menghambat kebebasan mereka," ujar dia.

Berbicara dalam program BBC Radio 4's Today, dia menyerukan Menteri Kehakiman Liz Truss untuk "memutuskan" masalah mendesak ini.

Peter Dawson, direktur Perserikatan Reformasi Penjara (PRT), mengatakan: "Sebuah keputusan politik diperlukan untuk memotong jalur birokrasi yang telah menjerat beberapa tahanan selama bertahun-tahun."

Seorang juru bicara Departemen Kehakiman mengungkapkan: "Perlindungan publik tetap menjadi prioritas utama kami. Namun laporan ini benar-benar menyoroti kekhawatiran sekitar urusan tahanan IPP."

"Itu sebabnya kami sudah membentuk unit baru di lingkungan Departemen Kehakiman demi mengatasi penumpukan beban dan bekerja dengan Dewan Pembebasan Bersyarat untuk meningkatkan efisiensi dalam proses ini," pungkasnya.


(WIL)

BDF IX Berakhir, Demokrasi Masih Hadapi Banyak Tantangan

BDF IX Berakhir, Demokrasi Masih Hadapi Banyak Tantangan

1 day Ago

Bali Democracy Forum (BDF) IX resmi ditutup. Sejak pertama kali diadakan pada 2008, tingkat keikutsertaan…

BERITA LAINNYA