Wanita Inggris Lahirkan Anak Pertama di Usia 58 Tahun

Arpan Rahman    •    Senin, 30 Jul 2018 19:09 WIB
peristiwa unik
Wanita Inggris Lahirkan Anak Pertama di Usia 58 Tahun
Carolyne Ness bersama anaknya, Javed. (Foto: Phoenix Features)

London: Seorang wanita asal Inggris melahirkan anak pertamanya di usia 58 tahun, setelah menjalani prosedur IVF (In Vitro Fertilization: salah satu teknik membantu perempuan dengan masalah kesuburan memiliki bayi) di luar negeri. 

Saat itu, NHS (layanan kesehatan nasional Inggris) menolak perawatan wanita itu dengan alasan sudah berusia terlalu tua.

Carolyne Ness, sekarang berumur 59 tahun, membayar GBP4.500 (berkisar Rp85 juta) untuk prosedur yang disebut adopsi embrio, di mana telur dan sperma donor dibuahi lalu ditanam di dalam rahim wanita.

Menurut pedoman NHS, wanita di bawah 40 tahun memenuhi syarat jaminan pembiayaan tiga kali melahirkan. Sementara wanita berusia antara 40 dan 42 hanya satu kali kehamilan.

Menikah di usia 30 tahun, Carolyne tidak juga kunjung hamil setelah memasuki usia 40 tahun. Kala itu, seorang dokter membawa kabar buruk bahwa dia mengalami infertilitas.

Ia kemudian pindah ke Australia untuk memulai hidup baru. Ketika dia berusia 50, ia masih belum diberi kesempatan menjadi seorang ibu.

Adopsi Embrio

Dia mencari anak adopsi di Australia, namun mendapati ternyata prosesnya terlalu panjang. "Plus, saya ingin hamil. Saya ingin bayi di dalam tubuh saya sendiri," serunya. 

Setelah temannya menyarankan adopsi embrio, Carolyne menemukan fakta bahwa hanya Siprus dan India yang menawarkan prosedur semacam itu untuk wanita tua.

"Jika saya masih memiliki telur tersisa, mungkin kualitasnya tidak terlalu baik di usia saya saat ini. Tetapi selama rahim saya sehat, tidak ada alasan mengapa saya tidak dapat mencoba prosedur kehamilan donor."

Seorang dokter menegaskan bahwa rahimnya cukup sehat untuk melahirkan bayi. Tetapi teman-teman Carolyne sempat tidak yakin atas keputusannya untuk hamil.

Carolyne memecahkan tabungannya demi membayar GBP4.500 di International Fertility Centre di New Delhi, serta biaya penerbangan dan akomodasi senilai GBP1000 untuk perjalanan pada Maret 2017.

"Saya menikmati liburan yang hebat, bepergian dengan becak, melihat Taj Mahal. Klinik itu lebih dari yang saya harapkan. Ada ruang tunggu besar dengan deretan bangku di mana pasangan, yang berharap punya bayi, duduk menunggu," kata Carolyne.


Carolyne menghabiskan banyak biaya untuk kehamilannya. (Foto: Phoenix Features)

Bermain Ski

Setelah menjalani prosedur USG untuk memeriksa kandungan, Carolyne diberi suntikan hormon. Dari daftar sepuluh donor telur dan sperma, Carolyne memilih donor telur dari seorang wanita muda India. "Saya memilih seorang gadis berusia 21 tahun yang suka menari," ucap dia.

"Donor sperma adalah orang Amerika. Dia 1,82 meter dan bekerja di bidang IT, memiliki rambut hitam dan mata coklat," ungkap Carolyne, seperti dinukil dari Metro.co.uk, Senin 30 Juli 2018.

Tiga embrio yang dibuahi itu ditanam di klinik selama lima hari, kemudian ditransfer ke rahim Carolyne, dengan harapan akan berhasil.

Dua pekan kemudian, di Australia, tes darah menegaskan bahwa Carolyne hamil. Ia dipantau secara teratur dan pada pemindaian pertama, ternyata Carolyne mengandung seorang anak laki-laki. Anak itu diberi nama Javed. 

Pada 6 November 2017, Javed lahir lewat operasi sesar dengan berat 2,3 kilogram dan panjang 59 sentimeter.

Tidak diragukan lagi, sebagai salah satu ibu Inggris tertua yang melahirkan anak pertamanya, Carolyne tahu sejumlah orang akan mengkritiknya.

"Saya mau mengajaknya berenang dan bermain ski. Saya akan mengajarkannya bermain ski satu hari. Saya akan berusia 60 pada Maret nanti, tetapi saya memiliki banyak energi," cetus dia bahagia.


Javed sedang bermain ayunan. (Foto: Phoenix Features)



(WIL)