Ilmuwan Prediksi Pemanasan Global Berpotensi Kerdilkan Ukuran Hewan

Arpan Rahman    •    Minggu, 19 Mar 2017 17:33 WIB
satwa
Ilmuwan Prediksi Pemanasan Global Berpotensi Kerdilkan Ukuran Hewan
Perbandingan ukuran kuda jenis Morgan (kiri) dengan spesies Sifrhippus sandrae. (Foto: Florida Museum of Natural History)

Metrotvnews.com, New Hampshire: Pemanasan global telah mengerdilkan hewan tertentu di zaman purba, dan para ilmuwan khawatir hal itu bisa terjadi lagi di era modern.

Hewan berdarah panas setidaknya sudah menjadi dua kali lebih kecil dalam sejarah ketika tingkat karbon dioksida melonjak dan suhu di Bumi meningkat sebagai bagian dari pemanasan alami, kata sebuah studi terbaru.

Peneliti di University of New Hampshire, Abigail D'Ambrosia, memperingatkan bahwa mamalia -- bukan manusia -- ukurannya bisa mengecil lebih cepat di masa mendatang di bawah pemanasan global.

"Ini adalah sesuatu yang perlu kita awasi," kata D'Ambrosia, yang memimpin studi terbaru, seperti dikutip USA Today, Minggu 19 Maret 2017. "Pertanyaannya adalah, seberapa cepat kita akan melihat perubahan ini," sambung dia.

Tiga spesies berbeda tercatat menyusut sekitar 54 juta tahun silam ketika planet tiba-tiba memanas. Salah satu dari mereka -- kuda kecil -- menjadi 14 persen lebih kecil, dari sekitar 7,7 kilogram menjadi 6,6 kilogram, menurut sebuah analisis dari fosil gigi dalam jurnal Science Advances, Rabu 15 Maret 2017.

"Hewan ini mungkin dulu sebesar anjing, kemudian mereka mengecil," kata D'Ambrosia. "Kini tubuhnya menjadi seukuran kucing." Makhluk lainnya adalah hewan lemur, yang menyusut sekitar 4 persen.

Studi sebelumnya telah mendokumentasikan soal menyusutnya sejumlah mamalia, termasuk nenek moyang kuda purba, selama pemanasan sebelumnya, yang berkisar pada 56 juta tahun lampau. Para ilmuwan dan petani juga sudah lama mengawati hewan seperti sapi yang menyusut dan memberikan sedikit susu saat cuaca panas.

Studi terbaru ini menunjukkan pemanasan global dan penyusutan ukuran hewan adalah dua hal yang saling terkait.

Pemanasan Global

"Hasil ini sangat penting karena memberi tes independen lain mengenai apakah iklim mendorong perubahan ukuran tubuh pada mamalia," kata Jonathan Bloch, kurator paleontologi vertebrata di Florida Museum of Natural History, yang bukan bagian dari penelitian. 

"Jika kita mulai melihat pola berulang, kita bisa belajar dari itu. Dan apa yang kita pelajari dari pelajaran ini tentu akan menjadi penting ketika kita berpikir tentang respons yang mungkin terjadi pada tumbuhan dan hewan dalam perubahan iklim di masa depan," sambungnya.

Kedua studi D'Ambrosia menunjukkan soal pemanasan sebelumnya didasarkan pada fosil Bighorn Basin yang ditemukan dari Wyoming. D'Ambrosia menduga penyusutan tidak hanya hanya terjadi di wilayah sana.

Dalam iklim panas, mamalia dan hewan berdarah panas lainnya akan mencucurkan keringat, sehingga mereka menyusut. Hewan yang lebih kecil memiliki lebih banyak kulit -- atau bulu -- per gram dari hewan yang lebih besar, hingga lebih banyak panas dapat terlepas, membuat mereka menyesuaikan diri secara lebih baik dengan iklim yang lebih hangat. Hewan yang lebih besar akan lebih baik dalam suhu dingin karena mereka memiliki kulit dan mampu menjaga panas tubuh mereka.

Pemanasan alami yang lebih besar -- 56 juta tahun yang lalu -- membuat temperatur Bumi naik 5,8 derajat Celsius atau lebih.


(WIL)