Warga Dunia Saksikan Gerhana Terpanjang Abad ke-21

Arpan Rahman    •    Sabtu, 28 Jul 2018 14:01 WIB
gerhana bulan
Warga Dunia Saksikan Gerhana Terpanjang Abad ke-21
Warga Jerman menyaksikan gerhana bulan di Munich, 27 Juli 2018. (Foto: AFP/Christof Stache)

Singapura: Bulan bulat berwarna merah darah memukau warga seantero dunia pada Jumat 27 Juli 2018, saat objek luar angkasa itu bergerak ke dalam bayangan Bumi untuk menjadi gerhana terlama di abad ke-21.

Dari Cape of Good Hope hingga ke Timur Tengah, dan dari Kremlin hingga ke Sydney, ribuan orang mengalihkan pandangan mereka ke langit untuk menyaksikan bulan. Sinarnya sempat menjadi gelap sebelum akhirnya bercahaya warna oranye, coklat, dan merah tua.

Gerhana total berlangsung 1 jam, 42 menit, dan 57 detik, meskipun gerhana parsial mendahulu dan mengikutinya. Itu berarti bulan menghabiskan total hampir 4 jam dalam bayangan umbral Bumi, menurut keterangan Badan Antariksa Amerika Serikat atau NASA.

Gerhana sepenuhnya terlihat dari Eropa, Rusia, Afrika, Timur Tengah, dan sebagian besar Asia serta Australia. Awan menghalangi pengamatan gerhana bulan di beberapa lokasi.

Pemandangan fenomenal ini tidak terlihat dari Amerika Utara atau sebagian besar Pasifik.

"Inilah mengapa kehidupan itu berharga: momen-momen ajaib seperti ini," kata seorang warga bernama Teddy Muthusi saat dirinya menyaksikan gerhana dari Uhuru Park di Nairobi. 

"Indah sekali. Ini sangat berharga," cetusnya, seperti disitat dari Channel News Asia, Sabtu 28 Juli 2018.

Di tepian Sungai Gangga India, kuil-kuil ditutup menjelang gerhana. Terdapat pula yang menyaksikan melalui teleskop di Marina South Pier di Singapura dan di Al Sadeem Observatory di Al Wathba dekat Abu Dhabi.

Ratusan orang di Australia membayar untuk melihat gerhana dari Observatorium Sydney sebelum matahari terbit.

Selama ribuan tahun, manusia telah melihat ke langit untuk pertanda kehancuran, kemenangan, dan sukacita. Gerhana bulan 'darah' kerap diasosiasikan dengan pertanda bencana.

Namun, para astronom mengatakan tidak ada alasan untuk khawatir.

"Tidak ada alasan untuk percaya bahwa bulan-bulan darah meramalkan kiamat," kata Robert Massey dari Royal Astronomical Society.

"Melihat gerhana bulan dan Mars di langit adalah sesuatu yang seharusnya dinikmati, tidak perlu dikhawatirkan," seru dia.

Para ahli memprediksi gerhana bulan berikutnya dengan durasi sepanjang ini akan terjadi pada 2123.


(WIL)