Gunung Es Seberat 1 Triliun Ton dan Sebesar Bali Terpisah dari Antartika

Willy Haryono    •    Kamis, 13 Jul 2017 12:13 WIB
lingkungan hidupperistiwa unik
Gunung Es Seberat 1 Triliun Ton dan Sebesar Bali Terpisah dari Antartika
Foto NASA via Universitas Swansea memperlihatkan gunung es seberat 1 triliun ton terpisah dari Larsen C di Antartika. (Foto: AFP/NASA/JOHN SONNTAG)

Metrotvnews.com, London: Salah satu dari gunung es terbesar di Antartika terpisah dan hanyut, menurut laporan sejumlah peneliti, Rabu 12 Juli 2017. Terpisahnya gunung es ini dapat membahayakan kapal-kapal yang berlajar di sekitarnya.

Gunung es seberat satu triliun ton itu, dengan luas 5.800 kilometer per segi, terpisah dari Larsen C Ice Shelf di Antartika antara 10 dan 12 Juli. 

Menurut peneliti Universitas Swansea and the Survei Antartika Inggris, gunung es itu berukuran setara luas negara bagian Delaware di Amerika atau Bali di Indonesia.  

Sepanjang berlangsungnya musim dingin di Antartika, peneliti terus memantau perkembangan keretakan es dengan menggunakan satelit Badan Antartika Eropa. 

“Gunung es tersebut itu merupakan yang terbesar sepanjang catatan, dan kondisi ke depannya sangat sulit sekali diprediksi,”  ucap Adrian Luckman, profesor dari Universitas Swansea dan Proyek Investigasi MIDAS, seperti dikutip Reuters

“Kemungkinan gunung es itu akan tetap utuh dalam satu bagian, tapi mungkin juga pecah menjadi beberapa fragmen.“ tambah dia.



Pada 2009, lebih dari 150 penumpang dan kru dievakuasi setelah kapal Explorer MTV tenggelam akibat menabrak gunung es di Antartika. 

Akan diberi nama A68, gunung es itu sudah dalam keadaan mengambang sebelum terpisah dari Larsen C. Ini artinya, terpisahnya A68 tidak berimbas langsung pada ketinggian permukaan air laut.

Larsen A dan B di Antartika, yang berada di utara Semenanjung Antartika, sudah runtuh pada 1995 dan 2002. 

“Hal ini mengakibatkan percepatan gletser yang berlangsung dramatis. Jika saat ini Larsen C mulai menurun dan bahkan runtuh, akan ikut menyumbang tingkat permukaan air laut," kata David Vaughan, Glasiolog dan Direktur Survei Antartika Inggris. 

Para peneliti menilai hancurnya gunung es tersebut tidak ada hubungannya dengan perubahan iklim akibat ulah manusia. Wilayah Ini berada di Semenanjung Antartika yang telah menghangat selama beberapa dekade terakhir. (Ratu Tiara Sari)


(WIL)