Misteri Terungkap, Peradaban Maya Hancur akibat Kekeringan

Arpan Rahman    •    Minggu, 05 Aug 2018 17:46 WIB
peristiwa unik
Misteri Terungkap, Peradaban Maya Hancur akibat Kekeringan
Piramida Kukulkan yang dibangun peradaban suku Maya. (Foto: Marte REBOLLAR/AFP/Getty Images)

Cambridge: Kekeringan dahsyat di Meksiko lebih dari 1.000 tahun silam diduga telah memicu hancurnya peradaban Maya.

Para ilmuwan di bidang iklim mengatakan bahwa curah hujan turun drastis hingga 70 persen di kawasan tempat berdirinya peradaban Maya. Turunnya curah hujan terjadi saat peradaban itu mengalami krisis politik yang membuat beberapa wilayahnya terbengkalai.

Jatuhnya peradaban Maya telah lama menjadi bahan perdebatan. Isu bencana kekeringan diperdebatkan selama bertahun-tahun sebagai penyebab pasti kehancurannya.

Ada teori lain yang menyebutkan Maya hancur karena perang, invasi suku asing atau hilangnya rute perdagangan.

Tetapi tim peneliti internasional telah mengkalkulasikan kondisi di Semenanjung Yucatan pada saat penurunan curah hujan. Kalkulasi dilakukan dengan mengambil sampel sedimen dari danau setempat.

Nick Evans dari Universitas Cambridge mengatakan bahwa "peran perubahan iklim dalam keruntuhan peradaban Maya cukup kontroversial, sebagian karena catatan sebelumnya terbatas pada rekonstruksi kualitatif, misalnya apakah kondisi cuaca saat itu lebih basah atau lebih kering."

"Studi kami mewakili kemajuan substansial karena memberikan perkiraan curah hujan dan tingkat kelembapan yang kuat secara statistik selama periode jatuhnya peradaban Maya," cetus dia, seperti dikutip dari The Sun, Minggu 5 Agustus 2018.

Peradaban Maya berdiri dari 250 hingga 800 Masehi. Selang periode tersebut, monumen batu ternama suku Maya -- Piramida Kukulkan -- mulai dibangun.

Kala itu, masyarakat kuno Maya membangun kota besar dengan menggunakan mesin canggih masa. Masyarakat Maya juga mendapat pemahaman mengenai astronomi serta mengembangkan metode pertanian serta kalender yang akurat.


Piramida Kukulkan ramai dikunjungi turis. (Foto: AFP/JIJI)

Kekeringan Parah

Namun pada akhir periode ini, sesuatu terjadi dan membuat masyarakat Maya meninggalkan kota-kota batu kapur mereka.

Masyarakat Maya masih hidup sampai hari ini di seluruh wilayah tersebut. Tapi saat orang-orang Eropa pertama kali datang menemui mereka di masa lalu, kekuatan masyarakat Maya terbatas.

Mereka menyimpulkan kekeringan adalah penyebab perubahan ekonomi dan politik peradaban maya pada sekitar tahun 800 Masehi.

Tim tersebut menganalisis air yang terperangkap di dalam kristal dari mineral yang disebut gipsum yang ditemukan di Danau Chichancanab.

Mereka kemudian mengkalkulasi perubahan tepat dalam curah hujan dan kelembaban yang terjadi ratusan tahun lalu.

"Metode pengukuran ini sangat akurat," klaim Evans.

Data pengukuran tim Evans tersebut kini dapat digunakan untuk menghubungkan masa kekeringan parah hingga jatuhnya peradaban Maya.

Penelitian terbaru Evans dan timnya ini telah diterbitkan dalam jurnal bertajuk Science.



(WIL)