Ganja Dilegalkan, Petani Thailand Khawatir

Fajar Nugraha    •    Rabu, 26 Dec 2018 18:49 WIB
legalisasi ganjathailand
Ganja Dilegalkan, Petani Thailand Khawatir
Ganja akan dilegalkan oleh Thailand untuk keperluan medis. (Foto: AFP).

Bangkok: Thailand menjadi negara pertama di Asia yang akan melegalkan ganja untuk keperluan medis. Namun hal ini menimbulkan kekhawatiran para petani.

Undang-undang baru yang dikeluarkan pada Selasa 25 Desember memungkinkan penanaman dan penggunaan ganja untuk tujuan medis. Petani menantikan aturan baru itu karena menjanjikan keuntungan ekonomi, tetapi di saat yang sama menimbulkan kekhawatiran perusahaan asing dapat menuai keuntungan.

Aturan yang dikeluarkan Parlemen Nasiona Thailand ini merupakan langkah signifikan bagi wilayah yang menerapkan hukuman berat kasus pelanggaran narkoba. Rancangan undang-undang (RUU) itu melegalkan penggunaan ganja dan kratom,-ramuan tradisional,- untuk penelitian dan penggunaan medis selain juga memungkinkan untuk produksi, impor dan ekspor ganja.

RUU ini masih melarang penggunaan ganja untuk rekreasi dan memiliki batasan ketat pada jumlah yang bisa dibawa seseorang. Menurut anggota parlemen Jet Sirathronont, RUU tersebut harus meraih persetujuan kerajaan agar sah menjadi hukum yang mengikat.

Dewan Petani Nasional Thailand memuji undang-undang tersebut karena menyediakan ‘tanaman ekonomi baru’ untuk membantu para petani melakukan diversifikasi produksi mereka.

"Saya berharap Thailand dapat menghasilkan 100 miliar baht (atau Rp44 triliun) per tahun dari menanam ganja dan menjual bahan baku dan minyak ganja," kata Ketua Dewan Petani Nasional Thailand, Prapat Panyachartrak kepada AFP, Rabu 26 Desember 2018.

Tetapi  para petani juga khawatir bahwa beberapa perusahaan asing dan raksasa farmasi berada di posisi terdepan untuk mengambil paten berharga untuk menghasilkan ganja dan ekstraknya untuk medis.

“Mereka yang memegang paten dapat menghentikan universitas di Thailand dan lembaga pemerintah untuk melakukan penelitian,” sebut jaringan aktivis pertanian, petani dan akademisi yang juga Direktur BioThai Witoon Liamchamroon.

Kementerian Perdagangan Thailand berjanji untuk mencabut petisi perusahaan asing. Aktivis ganja Buntoon Niyamabhra meminta pemerintah untuk membatalkan aplikasi paten dari perusahaan multinasional asing.

"Kalau tidak, orang Thailand tidak akan mendapat manfaat karena undang-undang paten berlaku surut begitu undang-undang baru berlaku," katanya kepada AFP.

Thailand memiliki sejarah panjang dengan ganja. Marijuana pernah diklasifikasikan sebagai ramuan tradisional sebelum dikategorikan kembali sebagai narkotika pada tahun 1970an,- yang melarang produksi, konsumsi, penjualan, dan kepemilikannya.

Ganja masih tetap tersedia meskipun hukuman berat bagi mereka yang tertangkap merokok itu. Namun Buntoon, yang mendirikan Jaringan Pengguna Ganja di Thailand pada 2013, mengatakan ganja pernah digunakan pada lebih dari 100 formula obat tradisional Thailand.

"Saya telah menggunakan ganja selama lebih dari 50 tahun. Rokok dan wiski lebih berbahaya bagi kesehatanmu,” katanya.

Beberapa negara telah menganut penggunaan ganja obat, termasuk Kanada, Australia, Israel, dan lebih dari setengah negara bagian di AS. Grand View Research yang berbasis di AS memperkirakan pasar global untuk ganja medis dapat mencapai USD55,8 miliar pada tahun 2025.


(FJR)