Hampir 2 Miliar Orang Bergantung pada Pangan Impor

Arpan Rahman    •    Jumat, 14 Apr 2017 20:10 WIB
peristiwa unik
Hampir 2 Miliar Orang Bergantung pada Pangan Impor
Ilustrasi Metrotvnews.com

Metrotvnews.com, Amsterdam: Hampir dua miliar orang sekarang bergantung pada pangan impor, sebuah penelitian terbaru menyimpulkan.
 
Studi yang dilakukan oleh para ilmuwan di Aalto University di Belanda, menjadi salah satu penelitian pertama dalam menganalisis hubungan antara kelangkaan sumber daya, pertumbuhan penduduk, dan impor pangan. Laporan tersebut diterbitkan, pekan ini, dalam jurnal Earth's Future.
 
"Meskipun hal ini telah menjadi topik diskusi global untuk jangka waktu yang lama, penelitian sebelumnya belum mampu menunjukkan hubungan yang jelas antara kelangkaan sumber daya dan impor pangan," kata peneliti postdoktoral Miina Porkka dalam rilis yang dikutip UPI, Kamis 13 April 2017. 
 
"Kami melakukan analisis global yang berfokus pada daerah di mana ketersediaan air membatasi produksi, dan memeriksanya dari tahun 1961 sampai 2009, mengevaluasi sejauh mana tekanan pertumbuhan populasi terkait dengan meningkatnya impor pangan," bubuhnya.
 
Manakala populasi berkembang, tekanan atas ketersediaan air dan sumber daya tanah di suatu kawasan juga meningkat. Ketika pertanian lokal tidak bisa memenuhinya, populasi harus mencarinya di tempat lain.
 
Menurut temuan terbaru, 1,4 miliar orang bergantung pada makanan yang diproduksi di tempat lain. Sebanyak 460 juta orang lainnya tinggal di daerah di mana impor gagal mencukupi kekurangan dari pasokan makanan lokal.
 
"Ini tampak jelas: mencari di tempat lain ketika produksi lokal tidak cukup, dan analisis kami menunjukkan bahwa itulah yang terjadi," kata mitra penulis studi, Joseph Guillaume. "Mungkin itu adalah pilihan yang tepat, tetapi bukan jaminan."
 
Tentu ada pilihan lain, bagaimanapun juga. Para petani, ilmuwan, dan pembuat kebijakan dapat bekerja meminimalkan limbah makanan, meningkatkan efisiensi, dan mengurangi permintaan.
 
Di kala sumber daya planet ini yang datang dari pajak dan rantai pasokan pangan global menjadi semakin saling berhubungan -- dan rapuh -- para peneliti mengatakan pentingnya untuk mendorong solusi yang berkelanjutan demi mengatasi masalah kelangkaan pangan.
 
Penelitian lain baru-baru ini menunjukkan tanaman yang bergantung pada sumber daya rentan air malah meningkat secara teratur diperdagangkan, diiringi menyusutnya ketersediaan air di seluruh dunia.
 
"Menjaga permintaan pangan dalam kondisi kekurangan pasokan adalah isu utama," kata Porkka.

"Pengendalian pertumbuhan penduduk memainkan peran penting dalam pekerjaan ini, tetapi juga akan menjadi penting untuk meningkatkan rantai produksi dengan mengurangi limbah makanan dan konsumsi daging. Sudah seperempat dari semua makanan yang diproduksi di dunia ini terbuang, bila menguranginya akan benar-benar signifikan pada tingkat global," pungkasnya.

(FJR)