Swedia Negara Terbaik di Dunia bagi Para Pekerja Migran

Arpan Rahman    •    Selasa, 11 Jul 2017 20:06 WIB
imigran
Swedia Negara Terbaik di Dunia bagi Para Pekerja Migran
Balai Kota Stockholm, Swedia dianggap sebagai negara terbaik untuk pekerja migran (Foto: UPI).

Metrotvnews.com, Stockholm: Swedia menempati peringkat puncak sebagai negara terbaik di dunia untuk seorang migran, menurut sebuah survei baru.
 
Survei U.S. News menempatkan negara-negara terbaik bagi para migran dengan menilai persepsi internasional tentang suatu negara, kebijakan imigrasi, dan data ekonomi. Swedia muncul teratas, diikuti Kanada, Swiss, Australia, dan Jerman dalam lima besar.
 
Amerika Serikat (AS) berada di peringkat tujuh dalam daftar, Norwegia sedikit unggul di nomor enam. Lebih dari 21.000 orang berpartisipasi dalam survei tersebut dan diajukan pertanyaan tentang stabilitas ekonomi, lapangan kerja, dan perimbangan pendapatan. U.S. News juga mendasarkan skor berapa banyak uang yang bisa dikirim oleh para migran ke negara asal mereka, berapa persentase penduduknya adalah migran, dan penilaian integrasi negara bagi migran, seperti pelatihan bahasa dan pengalihan sertifikasi pekerjaan.
 
Swedia sudah menerima jumlah pengungsi yang terus meningkat asal Afrika Utara, namun kebijakan pengungsi bukanlah faktor dalam menentukan peringkat, namun kebijakan imigrasi yang diperhitungkan.
 
"Sementara metodologi kami tidak berfokus pada pengungsi secara khusus, hal itu telah mempertimbangkan kebijakan imigrasi dan langkah-langkah integrasi per analisis dari Perserikatan Bangsa-Bangsa," kata reporter data U.S. News, Deidre McPhillips, menurut Washington Post
 
"Tujuan kami dengan penelitian ini adalah untuk fokus pada aspek ekonomi imigrasi dan dampaknya terhadap pendirian negara yang ada di dunia," bubuhnya, seperti dikutip UPI, Senin 10 Juli 2017.
 
Tapi Swedia, sebuah negara kecil dengan populasi seukuran kota New York, telah dipertanyakan soal perpanjangan program kesejahteraan sosialnya dengan bertambahnya migran dari Afrika dan Timur Tengah, serta Eropa Timur.
 
"Swedia harus mematuhi batasan kebijakannya (terhadap migran)," kata Demetrios G. Papademetriou, pakar senior dan presiden emeritus di Migration Policy Institute di Washington.
 
Lebih banyak orang dengan berbagai cara hidup memasuki masyarakat yang sebagian besar homogen, ketegangan telah meningkat dalam beberapa tahun terakhir. Terutama setelah serangan pencari suaka asal Uzbekistan yang baru-baru ini membajak sebuah truk bir dan menabrakkannya ke kerumunan, menewaskan empat orang pada April silam.
 
"Ini di luar kendali. Ada banyak dari mereka, tidak ada tempat bagi mereka," seorang penduduk Swedia yang merupakan anak dari migran Yunani mengatakan kepada CNN
 
"Masalah sebenarnya adalah para pengungsi. Mereka datang ke sini dan berpikir mereka bisa melakukan apapun yang mereka mau," ujarnya.
 
Tetapi bahkan sebelum serangan truk bir, Swedia sudah menekan imigrasi dengan membatasi 'kemungkinan pencari suaka dan anggota keluarga mereka diberi izin tinggal di Swedia' dan menolak tunjangan kesejahteraan sosial, termasuk perumahan, jika pencari suaka tersebut sudah dipersalahkan.



(FJR)