Penjelajah Inggris Hilang di Hutan Terpencil Papua Nugini

Arpan Rahman    •    Kamis, 16 Nov 2017 09:35 WIB
orang hilanginggris
Penjelajah Inggris Hilang di Hutan Terpencil Papua Nugini
Penjelajah Inggris dilaporkan hilang di Papua Nugini (Foto: Sky News).

Port Moresby: Seorang penjelajah Inggris lenyap di hutan terpencil Papua Nugini (PNG). Benedict Allen, 57, terjun ke daerah itu dengan helikopter, tiga pekan lalu, dan belum pernah kelihatan lagi sejak saat itu.

Postingan terakhir di laman Twitternya pada 11 Oktober berbunyi: "Bergerak ke Heathrow. Saya mungkin pergi untuk sementara waktu (jangan mencoba menyelamatkan saya, tolong -- ke mana saya pergi di PNG, Anda tidak akan pernah menemukan saya, Anda tahu...)"

Ayah dari tiga orang tersebut tidak memiliki telepon atau layanan GPS. Namun diperkirakan kembali berada di ibu kota Papua Nugini Port Moresby, pada Minggu, untuk penerbangan ke Hong Kong. Di Hong Kong, dia akan memberikan pidato kepada Royal Geographic Society.

Agennya Joanna Sarsby mengatakan kepada Daily Mail: "Istrinya Lenka belum pernah mendengar kabar darinya, sehingga sangat khawatir."

"Dia tidak akan pernah melewatkan acara seperti pembicaraan Hong Kong kecuali jika ada sesuatu yang terjadi," cetusnya.

"Dia penjelajah yang sangat berpengalaman, sangat pandai dalam banyak akal, dan mahir bertahan di tempat yang paling tidak bersahabat di Bumi, dan dia tidak akan pernah menyerah. Dia mungkin tidak muda lagi, tapi dia sangat bugar," tambahnya, seperti dinukil Sky News, Rabu 15 November 2017.

Sarsby mengatakan bahwa Allen berupaya menemukan suku Yaifo yang terkucil, yang dia gambarkan sebagai "pemburu yang bengis, mungkin yang ditakuti cukup banyak orang".

Dia imbuhkan: "Saya hanya membayangkan dia mungkin sudah sakit atau terbaring terluka di suatu tempat. Barangkali patah kaki, dan mungkin dibantu oleh penduduk setempat."

"Dia tidak pernah membawa telepon bersamanya -- dia percaya untuk hidup seperti lazimnya penduduk setempat," ujarnya.

Allen, yang tinggal di Bristol, Inggris, bersama keluarganya, sebelumnya telah menyelesaikan perjalanan terdokumentasi pertama sepanjang padang pasir Namib. Ia satu-satunya orang yang diketahui melintasi Gurun Gobi yang ganas sejauh 1.600km sendirian dengan mengendarai unta.

Di situsnya, Allen menulis: "Yaifo, suku yang pertama kali saya kenal sebagai orang luar sekitar 30 tahun yang lalu, masih tinggal di Central Range PNG yang terpencil.

"Selanjutnya, tidak ada orang luar yang melakukan perjalanan buat mengunjungi mereka sejak perjalanan yang agak berbahaya, yang saya lakukan sewaktu muda tiga dekade silam," ucapnya.

"Ini membuat mereka menjadi orang terkucil di Papua Nugini, dan salah satu suku terakhir di seluruh planet yang tidak berhubungan dengan dunia kita yang sudah saling terkait," bubuhnya.

Dia menambahkan bahwa, bahkan dalam perjalanan terakhirnya sebagai penjelajah berusia 26 tahun, dia telah menempuh medan "berbahaya".

"Entah saya harus mendayung, menyusuri sungai selama seminggu atau lebih -- atau meminta bantuan suku Yaifo, seperti yang saya lakukan terakhir kali, bersama-sama kami berhasil mencapai satu-satunya jembatan penyeberangan di Central Range. Jadi, jika situs ini atau akun Twitter saya nonaktif lebih dari biasanya -- sejak pertengahan November -- itu karena saya masih di luar sana," tuturnya.

"Jadi, jangan repot-repot menelepon atau mengirim SMS. Seperti hari-hari di masa lalu yang indah, saya tidak akan mengambil telepon satelit, GPS atau kawan sejalan, atau apa pun. Karena begitulah cara saya melakukan perjalanan eksplorasi," pungkasnya.


(FJR)