Meneteskan Air Mata, Yingluck Merasa Jadi Korban Persekusi Politik

Arpan Rahman    •    Selasa, 01 Aug 2017 16:01 WIB
politik thailand
Meneteskan Air Mata, Yingluck Merasa Jadi Korban Persekusi Politik
Mantan Perdana Menteri Thailand Yingluck Shinawatra. (Foto: EPA)

Metrotvnews.com, Bangkok: Mantan Perdana Menteri Thailand Yingluck Shinawatra menyampaikan pernyataan penutup dengan emosi kesedihan di sebuah pengadilan di Bangkok, Selasa 1 Agustus 2017. 

Ia mengaku berbuat jujur dalam menjalankan skema subsidi beras bernilai miliaran dolar Amerika Serikat. 

Yingluck berargumen bahwa skema berasnya, yang diestimasi merugikan negara hingga USD8 miliar, bermanfaat bagi masyarakat menengah ke bawah. Skema itu ditujukan kepada masyarakat petani, yang jumlahnya sekitar 40 persen dari total kekuatan buruh di Thailand. 

Masyarakat menengah ke bawah di Thailand adalah basis suara bagi partai Yingluck. 

"Kebijakan beras terbukti menguntungkan perekonomian level akar rumput dan nasional. Skema ini tidak menimbulkan kerugian. Itulah mengapa saya bermaksud menjadikan skema ini berjalan efektif," tutur Yingluck di Mahkamah Agung Thailand, seperti dilansir Channel News Asia

"Skema beras adalah skema jujur dan benar," tambah dia. 

Jika terbukti bersalah atas kelalaian dalam skema beras ini, Yingluck terancam 10 tahun penjara. 

Ia digulingkan pada Mei 2014 dalam sebuah kudeta militer. Yingluck dilarang kembali ke politik selama lima tahun pada 2015. Namun ia tetap menjadi tokoh gerakan populis yang memenangkan setiap pemilihan umum di Thailand sejak 2001. 

Meneteskan air mata, Yingluck berkata kepada majelis hakim bahwa dia adalah korban persekusi politik. 

"Saya tidak pernah tidak jujur dalam menjalankan tugas saya. Saya tahu saya ini adalah korban dari permainan politik," ungkap Yingluck. 

Lebih dari 1.000 pendukung Yingluck berkumpul di luar gedung MA Thailand. Saat Yingluck masuk ke gedung, para pendukungnya berteriak, "berjuang! berjuang!"


(WIL)