48 Tewas dalam Serangan Bom di Sekolah Afghanistan

   •    Kamis, 16 Aug 2018 11:18 WIB
afghanistan
48 Tewas dalam Serangan Bom di Sekolah Afghanistan
Ilustrasi oleh Medcom

Kabul: Peristiwa bom bunuh diri terjadi di sebuah sekolah di daerah Kabul, Afghanistan pada Rabu 15 Agustus. Insiden ini menewaskan sedikitnya 48 orang termasuk para pelajar.
 
Mobil-mobil ambulans dikirim ke pusat pendidikan Maqoud di bagian barat kota, dimana para pelajar yang selamat dan kerabat yang datang dikabarkan melakukan evakuasi terhadap korban-korban dari puing-puing ruangan kelas.
 
"Sekitar jam 4 sore ini, seorang penyerang bom bunuh diri yang telah mengikatkan bahan peledak ditubuhnya meledakkan dirinya di dalam pusat pendidikan Mawoud," kata juru bicara polisi, Hashmat Stanikzai, seperti dikutip AFP, Kamis 16 Agustus 2018.
 
Ia menambahkan, "dalam ledakan tersebut, 48 orang tewas dan lebih dari 60 orang cedera. Mayoritas dari mereka adalah pelajar. Jumlah korban bisa saja bertambah, karena tidak jelas ada berapa banyak siswa berada di tempat kejadian pada saat penyerangan."
 
Ali Ahmad, seorang siswa yang merupakan saksi kejadian, mengatakan bahwa sebanyak 100 siswa mungkin berada di dalam ketika ledakan. Tetapi angka tersebut belum dikonfirmasi.
 
"Saudaraku terluka, mungkin terbunuh, karena dia tidak bernafas ketika aku menemukan tubuhnya yang berlumuran darah dikeluarkan dari ruang kelas yang terbakar," ucap kerabat korban, Assadullah.
 
Assadullah sedang berada di daerah sekitar ketika mendengar suara ledakan dan segera berlari kesana. Saudaranya bernama Nusratullah yang berumur 17 tahun menjadi korban dalam kejadian tersebut.
 
"Dia anak yang pintar dan energik, dia mendapatkan peringkat tinggi dikelasnya. Sekarang aku tidak yakin dia akan selamat," imbuhnya.
 
Tidak ada yang mengaku bertanggung jawab atas serangan itu, yang dengan cepat dikecam oleh Presiden Ashraf Ghani dalam sebuah pernyataan. Baik Taliban maupun kelompok Negara Islam (ISIS) telah melakukan serangan yang merugikan, penyerangan di Kabul dalam beberapa bulan terakhir, tetapi Taliban dengan cepat membantah bahwa mereka terlibat. (Khalisha Firsada).


(FJR)