Mantan Presiden Brasil Divonis Penjara 9,5 Tahun karena Korupsi

Arpan Rahman    •    Kamis, 13 Jul 2017 15:00 WIB
politik brasil
Mantan Presiden Brasil Divonis Penjara 9,5 Tahun karena Korupsi
Mantan Presiden Brasil Luiz Inacio Lula da Silva divonis penjara 9,5 tahun (Foto: AFP).

Metrotvnews.com, Rio de Janeiro: Mantan Presiden Brazil Luiz Inacio Lula da Silva dijatuhi hukuman penjara hampir 10 tahun karena korupsi. 
 
Hukuman itu dijatuhkan, pada Rabu 12 Juli 2017 -- sebuah ketumbangan kejam bagi pemimpin kiri ikonik tersebut. Sekaligus putaran terakhir dalam penyelidikan korupsi politik yang meluas di negara Amerika Latin.
 
Lula, yang memerintah Brasil dari 2003-2010, divonis bersalah dan menjalani hukuman 9,5 tahun karena menerima sogokan sebuah apartemen mewah di tepi pantai dan USD1,1 juta.
 
Namun hakim anti-korupsi Sergio Moro, yang menjatuhkan hukuman itu, mengatakan Lula yang berusia 71 tahun akan tetap bebas sementara menunggu banding yang segera diajukan oleh para pengacaranya.
 
"Kami mengajukan banding dan akan membuktikan ketidakbersalahannya," kata para pengacara tersebut dalam sebuah pernyataan yang dikirim ke AFP, seperti dilansir, Kamis 13 Juli 2017.
 
Putusan tersebut menjadi pukulan berat pada prospek Lula untuk kembali ke politik dalam pemilihan presiden yang dijadwalkan pada Oktober tahun depan.
 
Putusan tersebut juga mengirim pesan dramatis ke sebagian besar kelas politik Brasil, sehingga mereka juga berisiko remuk diamuk gelombang anti-korupsi.
 
Bahkan presiden saat ini, Michel Temer, sudah didakwa menerima suap dan beberapa menterinya mengundurkan diri setelah muncul klaim korupsi.
 
Perubahan cuaca telah terjadi karena Operasi 'Cuci Mobil', sebuah penyelidikan anti-korupsi yang menyapu skema penggelapan dan penggelapan raksasa. Yang terlibat di antaranya grup minyak milik negara Petrobras, perusahaan konstruksi, dan beberapa partai politik -- kepala Partai Pekerja Lula berada di antara mereka.
 
Lula membantah tuduhan
 
Sementara banyak orang Brasil menyambut pembersihan yang telah lama tertunda dari situasi politik yang sangat kotor, ketidakpastiannya berupa perjuangan negara mereka yang tertatih-tatih buat keluar dari resesi bersejarah.
 
Putusan atas Lula "mutlak melarangnya untuk mencalonkan presiden tahun depan," kata Capital Economics, sebuah firma analisis ekonomi.
 
Ia menambahkan bahwa keputusan pengadilan tersebut 'kemungkinan akan memberikan dorongan jangka pendek ke pasar Brasil' karena kemungkinan Lula, mantan pemimpin serikat pekerja, kembali berkuasa dan menunda reformasi ekonomi yang kurang diperjuangkan oleh Temer.
 
Lula berulang kali menolak tuduhan menerima suap selama atau setelah masa kepresidenannya. Dia telah menggambarkan penyelidikan terhadap dirinya oleh Moro sebagai kampanye untuk mencegah kembalinya ke panggung politik.
 
Partai Pekerja mengeluarkan sebuah pernyataan yang menyebut putusan dan hukuman Lula sebagai 'sebuah serangan terhadap demokrasi' dan konstitusi Brasil, seraya menuduh hakim bias.
 
Putusan terfokus pada tuduhan bahwa Lula menerima apartemen tripleks dan uang tunai sebagai suap dari salah satu perusahaan konstruksi terbesar Brazil, OAS. Hakim memerintahkan agar apartemen itu disita.
 
"Antara kejahatan korupsi dan pencucian uang, ada alasan yang cukup untuk hukuman sembilan tahun enam bulan setelah penahanan," kata Moro dalam putusannya.
 
Kejatuhan politik
 
Hukuman oleh Moro menyebarkan kegaduhan politik yang lebih luas di Brasil. Moro sendiri, yang popularitasnya di Brazil lantaran pekerjaan anti-korupsinya telah mendorong beberapa kalangan melihatnya sebagai calon presiden.
 
Pengganti terpilih Lula, Dilma Rousseff, dipecat dan disingkirkan dari jabatannya tahun lalu. Temer, wakil presidennya, lantas mengambil alih kendali.
 
Dua pekan yang lalu, Moro menghukum seorang menteri berpengaruh di pemerintahan Lula dan Rousseff, Antonio Palocci, selama 12 tahun karena korupsi.
 
Palocci memainkan peran sentral dalam skema 'Cuci Mobil', yang sebagian besar dibentangkan ketika Partai Pekerja Lula berkuasa dari 2003 sampai 2016.
 
Jaksa mengatakan Palocci adalah seorang pengatur dalam aliran "sogokan antara kelompok konstruksi Odebrecht dan perantara Partai Pekerja," melakukan pencucian lebih dari USD10 juta yang digunakan bagi pendanaan kampanye partai.
 
Odebrecht, konglomerat industri dengan proyek-proyek di seluruh dunia, menyebut Palocci 'orang Italia' dalam daftar kode nama untuk politisi yang secara teratur menerima suap sebagai imbalan atas kontrak menguntungkan dengan Petrobras dan bantuan lainnya.
 
Masalah sogok apartemen mendera Lula menjadi satu dari lima kasus korupsi yang dihadapkan kepadanya.
 
Kasus lainnya, termasuk tuduhan bahwa Odebrecht memberi USD3,7 juta kepada Lula agar dia bisa membeli tanah buat membangun Lula Institution  yang menyoroti warisan politiknya. Juga dia menerima sebuah imbalan dalam pembelian pesawat tempur Swedia.

 

 
(FJR)