Siksa WNI, Seorang Warga Singapura Divonis Penjara

Fajar Nugraha    •    Senin, 03 Dec 2018 21:05 WIB
wni disiksaperlindungan wni
Siksa WNI, Seorang Warga Singapura Divonis Penjara
Ilustrasi oleh Medcom.id.

Singapura: Seorang warga Singapura dipenjara karena menyerang warga negara Indonesia (WNI) yang bekerja dengan keluarganya. Perlakuan kasar ini ini terjadi di Singapura.

Ema Rahmawati memberikan kesaksian selama persidangan terhadap Khoo Mee Choo yang berlangsung selama empat hari. Selain disiksa, perempuan berusia 24 tahun itu dilarang berkomunikasi dengan orang lain.

Hakim Kan Shuk Weng menetapkan Khoo yang berusia 64 tahun, bersalah atas lima dakwaan penyiksaan terhadap Ema. Pada Senin 3 Desember, Khoo divonis penjara 28 minggu.

Dalam pengakuannya kepada Jaksa Penuntut Umum, Kenny Yang, Ema tiba di Singapura pada Desember 2016. Sejak saat itu Khoo mulai menyiksanya secara verbal setiap bulan.

Tindakan kasar yang awalnya secara verbal berubah menjadi kekerasan fisik pada Januari 2017 lalu, ketika Khoo menilai kerja Ema di apartemen Pasir Ris ‘tidak memenuhi standarnya’. Ema mengatakan, Khoo menarik rambut dua hingga tiga kali setelah menilai kerjanya buruk. Ema juga menyebut bahwa Khoo berulang kali mencubitnya pada Januari dan April 2017.

“Korban mengingat insiden pertama, setelah tidak sengaja mencipratkan air ke arah pelaku, saat mencuci piring. Dia juga mengingat insiden lain, saat usai membersihkan toilet dari kamar mandi pelaku. Tidak senang dengan hasil kerjanya, pelaku mencubitnya berulangkali,” ujar Jaksa Yang, seperti dikutip The Straits Times, Senin, 3 Desember 2018.

Pengadilan menerima laporan bahwa Khoo terus menyiksa Ema hingga April 2017. Meskipun dilarang berkomunikasi, Ema berteman dengan Atika, seorang warga Indonesia lain yang bekerja untuk tetangga Khoo. Keduanya secara sembunyi saling menukar pesan di kertas dan menceritakan kondisinya.

Atika meninggalkan Singapura pada Februari 2017 dan majikannya menemukan catatan itu saat membersihkan kamarnya. Kemudian majikan  yang hanya diketahui bernama ‘Wendy’ ini mulai berkomunikasi dengan Ema.

“Korban mulai menceritakan kisahnya kepada Wendy khususnya mengenai penyiksaan yang dialaminya dan meminta bantuan.Wendy menelepon polisi setelah khawatir dengan kondisi Ema setelah membaca pesan terakhir. Wendy mengatakan bahwa Ema menulis catatan ‘sudah tidak tahan lagi’,” tutur Jaksa Yang.

Dalam pembelaannya Khoo mengklaim dia tidak pernah menyiksa Ema secara fisik ataupun menghina secara verbal. Menurutnya, Ema hanya mengarang cerita penyiksaan.

Sementara pengacara Khoo mengatakan bahwa kliennya dalam kondisi stres berat karena kanker kolon stadium tiga. Pengacara itu juga mengatakan tindakan penyiksaan itu tidak direncanakan.


(FJR)