Raja Bhumibol Adulyadej, Simbol Pemersatu Thailand

Arpan Rahman    •    Kamis, 13 Oct 2016 19:14 WIB
raja thailand
Raja Bhumibol Adulyadej, Simbol Pemersatu Thailand
Raja Bhumibol Aduljadey, sangat disayang oleh rakyat Thailand (Foto: AFP)

Metrotvnews.com, Bangkok: Raja Bhumibol Adulyadej adalah raja terlama yang berkuasa di dunia. Tokoh kharismatik itu wafat di usia 88 tahun, pada Kamis 13 Oktober pukul 3.52 sore waktu setempat.
 
"Seseorang yang baik dapat membuat orang lain baik; itu berarti kebaikan akan mendatangkan kebaikan dalam masyarakat," sabdanya yang termasyhur. 
 
Masih dihormati secara luas di Thailand, raja 88 tahun itu dipandang sebagai pengaruh kestabilan di negara yang -- selama kekuasaannya -- telah mengalami banyak kudeta militer, 19 kali perubahan konstitusi, dan memiliki banyak perdana menteri. 
 
Meskipun tahtanya berbentuk monarki konstitusional dengan kekuasaan terbatas, banyak warga Thailand menganggap Bhumibol sebagai setengah-dewa. Sabda-sabda tersiratnya secara seksama menjadi nasihat bagi rakyatnya.
 
Secara resmi di Thailand kedudukan Raja ada di atas pemerintah. Namun Raja Bhumibol beberapa kali melakukan intervensi pada saat ketegangan politik memuncak, dan dipercayai dapat menemukan resolusi tanpa kekerasan.
 
Namun para kritikus berpendapat, Raja Bhumibol telah menyetujui kudeta militer, dan beberapa kali gagal angkat suara menentang pelanggaran hak asasi manusia di Thailand. Selama kekacauan politik sejak satu dekade terakhir, beberapa pendukung Perdana Menteri terguling Thaksin Shinawatra menuduh para pejabat senior kerajaan berpihak menentang dirinya.
 
Proyek Kerajaan
 
Raja Bhumibol Adulyadej naik tahta pada 9 Juni 1946 menggantikan saudaranya, Raja Ananda Mahidol, yang mangkat di tempat tidur dalam insiden penembakan yang tak terungkap dalam Istana Kerajaan di Bangkok.
 
Ia lahir di Rumah Sakit Mount Auburn, Cambridge, Massachusetts, Amerika Serikat, sebagai anak ketiga dan bungsu dari Pangeran dan Putri Mahidol of Songkla -- ketika ayahnya kuliah di Harvard University. Ia kemudian dibesarkan di Swiss dan kembali ke sana untuk kuliah di Lausanne University, sebelum akhirnya pulang ke Thailand untuk dinobatkan pada Mei 1950.
 
Bhumibol Adulyadej, juga disebut Phumiphon Adunlayadet, atau Rama IX menjadi raja kesembilan dari dinasti Chakkri, yang telah berkuasa di Thailand sejak 1782, monarki terlama di Thailand.
 
Status monarki telah dibatasi sejak penghapusan monarki absolut pada 1932, disusul turun tahtanya Raja Prajadhipok, paman Raja Bhumibol, pada 1935.
 
Di tahun-tahun awal, Raja Bhumibol dibayangi jajaran pemimpin militer yang kuat. Namun dengan dukungan dari pangeran kerajaan lain dan para jenderal yang simpatik, ia membangun kembali wibawa monarki. Ia mengadakan serangkaian kunjungan ke berbagai provinsi terpencil, dan mendirikan berbagai proyek kerajaan yang jadi perhatiannya seumur hidup berupa pembangunan pertanian.
 
Pada 2006, Sekretaris Jenderal PBB Kofi Annan menganugerahkan beliau Penghargaan atas Pengabdian Seumur Hidup untuk Pembangunan Manusia.
 
Penghormatan publik terhadap Raja Bhumibol hingga saat ini bersifat tulus, namun juga dijaga secara berhati-hati oleh humas istana. Istana Thailand memberlakukan aturan keras "lese-majeste" yang menghukum setiap kritik terhadap monarki dengan hukuman hingga 15 tahun penjara.
 
Intervensi raja dalam kekacuan politik Thailand
 
Intervensi publik pertama Raja Bhumibol terjadi dalam kekacauan politik di Thailand pada 1973. Ketika itu, para demonstran pro-demokrasi di Bangkok ditembaki tentara dan diberi perlindungan di istana kerajaan, sebuah langkah yang kemudian menyebabkan runtuhnya pemerintahan Perdana Menteri Jenderal Thanom Kittikachorn.
 
Tapi Raja Bhumibol gagal mencegah hukuman mati tanpa pengadilan atas para mahasiswa sayap kiri oleh anggota paramiliter tiga tahun kemudian. Saat itu, monarki mengkhawatirkan pertumbuhan simpatisan komunis setelah berakhirnya Perang Vietnam.
 
Pada 1981, Raja Bhumibol dengan berani menghadapi sekelompok perwira militer yang melakukan kudeta terhadap perdana menteri, dan sahabat baiknya, Jenderal Prem Tinsulanond. Pasukan yang setia kepada raja kemudian merebut kembali Bangkok.
 
Pada 1992 ia kembali melakukan intervensi ketika puluhan demonstran ditembak setelah memprotes upaya dari mantan pemimpin kudeta, Jenderal Suchinda Kraprayoon, untuk menjadi perdana menteri. Raja memanggil Jenderal Suchinda dan pemimpin unjuk rasa, purnawirawan Jenderal Chamlong Srimuang. Sang raja memarahi keduanya yang berlutut di hadapannya dalam sorotan kamera televisi. Pemilu demokratis dipulihkan setelah itu, dan konstitusi baru diberlakukan.
 
Selama krisis yang mencuat atas kepemimpinan Perdana Menteri Thaksin Shinawatra pada 2006, raja sering diminta turun tangan. Namun dia bersikeras hal itu tidak pantas. 
 
Namun, pengaruhnya masih dipandang penting ketika pemilu yang dimenangkan Thaksin pada April dibatalkan pengadilan. Perannya dalam kudeta menggulingkan Thaksin, pada tahun itu juga, tidak diketahui secara pasti, meskipun penasihatnya mengatakan dia tidak diberitahu terlebih dahulu.
 
Beberapa tahun terakhir, nama raja dan gambarnya terus diusung kelompok protes pendukung raja yang mencoba menggeser pemerintahan pro-Thaksin.
 
Namun, raja yang kesehatannya terus memburuk memilih diam. Kepala Staf Angkatan Darat Jenderal Prayuth Chan-ocha kemudian merebut kekuasaan dalam kudeta militer pada Mei 2014.
 
Tiga bulan kemudian, pada Agustus, Raja Bhumibol resmi mengesahkan Jenderal Prayuth sebagai perdana menteri baru.
 
Kondisi Sakit berkepanjangan
 
Bhumibol merupakan cucu dari Raja Chulalongkorn. Ia menikah dengan sepupu jauhnya, Sirikit Kitiyakara, pada April 1950. 
 
Semasa muda, Raja Bhumibol menikmati berbagai kegiatan, termasuk fotografi, bermain dan menulis lagu dengan saksofon, melukis dan menulis. Dia bahkan menerima paten untuk pengembangan teknik buatan hujan.
 
Kondisi kesehatan Raja Bhumibol terus melemah dalam beberapa tahun terakhir. Ia menghabiskan sebagian besar waktunya di rumah sakit setelah dirawat karena infeksi paru-paru pada September 2009.



(FJR)

Hasil Referendum Italia dan Hubungannya dengan Uni Eropa

Hasil Referendum Italia dan Hubungannya dengan Uni Eropa

5 hours Ago

Perdana Menteri Italia Metteo Renzi mundur dari jabatannya setelah gagal menang dalam referendum…

BERITA LAINNYA