Trump pada Jong-un: Tombol Nuklir Saya Lebih Kuat

Marcheilla Ariesta    •    Rabu, 03 Jan 2018 12:03 WIB
korea utararudal korut
Trump pada Jong-un: Tombol Nuklir Saya Lebih Kuat
Presiden Amerika Serikat Donald Trump klaim tombol nuklir kepunyaannya lebih kuat dibanding Korea Utara. (Foto: AFP).

Washington: Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump menyebutkan tombol nuklir kepunyaannya lebih besar dan kuat dibanding milik Korea Utara (Korut).
 
 
Komentar Trump ini membalas pernyataan pemimpin tertinggi Korut, Kim Jong-un. Anak mendiang Kim Jong-il ini mengatakan bahwa tombol nuklir selalu terpasang di meja kerjanya.
 
"Pemimpin Korut Kim Jong-un telah menyatakan bahwa 'tombol nuklir selalu ada di mejanya setiap saat'. Akankah seseorang yang berada di bawah pemerintahannya, kemiskinan dan selalu kekurangan makanan dapat menolong saya memberitahukan padanya kalau saya juga memiliki Tombol Nuklir," kata Trump lewat akun Twitter miliknya, dilansir dari BBC, Rabu 3 Januari 2018.
 
"Namun milik saya jauh lebih besar dan lebih kuat dari yang dia punya. Dan lagi, tombol saya dapat bekerja!" imbuh Trump.
 
Usai 'mengancam' AS dengan tombol nuklir, Jong-un menuturkan bahwa dirinya siap berdialog dengan musuh bebuyutannya, Korea Selatan (Korsel). 
 
"Baik Korut maupun Korsel harus sama-sama berusaha. Terkait hubungan kedua negara, kita harus mengurangi ketegangan di Semenanjung Korea," katanya.
 
Pernyataan ini diutarakan Kim dalam pernyataan Tahun Baru 2018 di Pyongyang. Ia juga meyakinkan bahwa negaranya adalah negara pemilik kekuatan nuklir yang bertanggung jawab.
 
"Korut dan Korsel harus memperbaiki hubungan, terutama dari hubungan masa lalu dan melakukan terobosan dalam upaya mencapai penyatuan kembali," ungkap dia.
 
Pyongyang menyebut program senjatanya didesain untuk mencapai berbagai target, terutama dataran utama Amerika Serikat (AS) via teknologi misil antarbenua atau ICBM. 
 
Presiden AS Donald Trump merespons tiap langkah Korut dengan retorika mengancam, termasuk 'menghancurkan total' Pyongyang. Ia juga menyebut Kim sedang menjalankan 'misi bunuh diri.'
 
Alih-alih meredam langkah provokatif, sejumlah analis mengatakan retorika Trump juga membuat Kim semakin bersemangat dalam misinya menghancurkan AS. 



(FJR)