Duterte Sebut Harus Ada yang Bicara dengan Kim Jong-un

Arpan Rahman, Marcheilla Ariesta    •    Senin, 30 Oct 2017 15:15 WIB
filipinarudal korut
Duterte Sebut Harus Ada yang Bicara dengan Kim Jong-un
Presiden Filipina Rodrigo Duterte berpidato di Manila, 26 Oktober 2017. (Foto: AFP/NOEL CELIS)

Metrotvnews.com, Tokyo: Presiden Filipina Rodrigo Duterte menuturkan harus ada seseorang yang berbicara dengan pemimpin Korea Utara (Korut) Kim Jong-un. Menurut dia, itu satu-satunya jalan menghentikan program nuklir dan misil Korut tanpa harus merusak kerja sama diplomatik dengan Pyongyang.

Duterte menyampaikan pernyataan ini pada Minggu 29 Oktober 2017, sehari menjelang kunjungannya ke Jepang.

"Anda harus mengingat bahwa dia adalah pemimpin bangsanya. Apapun yang dia kerjakan, seseorang harus berbicara dengan dia," ujar Duterte, seperti dilansir dari laman ABC, Senin 30 Oktober 2017.

"Jadi, jika seseorang bisa mengulurkan tanganya, berbicaralah padanya dan katakan, 'Teman, mengapa Anda tidak bergabung bersama dan membicarakan hal-hal ini?' Namun hingga kini belum ada yang berbicara dengan dia," terangnya.

Amerika Serikat (AS), Jepang, Korea Selatan (Korsel) dan lainnya, tambah Duterte, perlu meyakinkan bahwa tak ada yang ingin mengancam rezim Kim. Mereka cukup meminta dengan baik-baik agar Kim menghentikan program nuklir.

Duterte meminta Presiden AS Donald Trump menghentikan ancaman ke Pyongyang. "Kalian seharusnya meredam, menghentikan ancaman. Pastikan saja kepada dia (Kim Jong-un) bahwa tak ada yang mengincar dirinya," imbuhnya.

Selama ini, Korut memang mengatakan akan tetap mengembangkan program rudal dan nuklirnya selama masih ada ancaman dari AS yang terus menggelar latihan militer bersama Korsel.

Sejak awal tahun ini, Korut terus memamerkan persenjataannya melalui sejumlah uji coba rudal, yang dua di antaranya melintasi wilayah Jepang. Korut bahkan dilaporkan menguji coba bom hidrogen.

Menurut Duterte, isu rudal dan nuklir ini akan menjadi pokok bahasan dalam pertemuannya dengan Perdana Menteri Jepang Shinzo Abe hari ini.

 


(WIL)