Patroli Bersama di Laut China Selatan Belum Bisa Dilakukan

Sonya Michaella    •    Jumat, 14 Oct 2016 15:47 WIB
indonesia-australia
Patroli Bersama di Laut China Selatan Belum Bisa Dilakukan
Pertemuan 2+2 RI-Australia akan membahas Laut China Selatan (Foto: Sonya Michaella/MTVN)

Metrotvnews.com, Jakarta: Isu Laut China Selatan akan menjadi salah satu bahasan di pertemuan two plus two (2+2) antara Indonesia dan Australia di Bali, 28 Oktober mendatang.
 
Pertemuan ini akan dilakukan antara Menteri Luar Negeri RI, Retno Marsudi didampingi Menteri Pertahanan RI, Ryamizad Ryacudu dengan Menteri Luar Negeri Australia, Julie Bishop berserta Menteri Pertahanan Australia, Marise Ann Payne.
 
"Keamanan maritim di Laut China Selatan akan menjadi salah satu bahasan. Sejauh mana arahnya ke depan," kata Direktur Asia Timur dan Pasifik Kementerian Luar Negeri, Edi Yusup di Kementerian Luar Negeri, Jakarta, Jumat (14/10/2016).
 
"Perkembangan sampai saat ini sejauh mana dan ekspektasinya seperti apa. Kalau untuk joint patrol (patroli bersama), belum," lanjutnya lagi.
 
Tak hanya Laut China Selatan, keamanan Laut Sulu juga menjadi pembahasan di pertemuan tersebut di mana di laut ini sering terjadi perompakan yang menyandera anak buah kapal WNI.
 
"Australia ingin belajar banyak dari Indonesia tentang membebaskan para sandera dan juga menguatkan keamanan di laut sekitar," ucapnya.
 
Pertemuan two plus two ini adalah pertemuan yang keempat sejak dilaksanakan pertemuan pertama pada 2010 silam di Canberra, Australia.
 
Setelah itu, pertemuan kedua dilaksanakan di Jakarta pada 2013 dan yang ketiga dilaksanakan di Sydney, Australia pada Desember 2015 lalu.
 
"Khusus dengan Australia, kita membahas strategi isu politik dan keamanan kawasan kedua negara. Karena kedua negara sangat mendorong adanya stabilitas keamanan," tuturnya lagi.
 
Untuk pertemuan tahun ini, akan ada empat topik yang akan dibahas, antara lain upaya peningkatan kontra terorisme dan kerja sama keselamatan maritim.
 
"Lalu yang ketiga adalag mengkaji kerja sama Indonesia dan Australia dengan organisasi regional seperti IORA dan EAS. Yang terakhir adalah bantuan teknik dan engagement dengan negara-negara Pasifik," ungkap Edi.
 
Senada dengan Edi, Juru Bicara Kementerian Luar Negeri, Arrmanatha Nasir pun mengungkapkan bahwa pertemuan ini adalah realisasi kerja sama antara Indonesia dan Australia di bidang politik dan keamanan.
 
"Isu yang dibahas adalah isu strategis di bidang politik keamanan dua negara dan bagaimana kontribusi dua negara terhadap stabilitas perdamaian dan keamanan kawasan," tandas Arrmanatha.
 
Selain itu, kerja sama dalam cyber security juga akan dibahas dalam pertemuan yang hanya berlangsung dalam dua jam ini.
 
Sebelum pertemuan two plus two Indonesia-Australia ini akan diadakan pula IORA Meeting and Its Related Meeting dimulai 22 hingga 27 Oktober mendatang bertempat di Bali juga.



(FJR)

BDF IX Berakhir, Demokrasi Masih Hadapi Banyak Tantangan

BDF IX Berakhir, Demokrasi Masih Hadapi Banyak Tantangan

22 hours Ago

Bali Democracy Forum (BDF) IX resmi ditutup. Sejak pertama kali diadakan pada 2008, tingkat keikutsertaan…

BERITA LAINNYA