Kabur dari Myanmar, Rohingya Ditolak Penjaga Perbatasan Bangladesh

Arpan Rahman    •    Senin, 28 Nov 2016 20:38 WIB
konflik myanmar
Kabur dari Myanmar, Rohingya Ditolak Penjaga Perbatasan Bangladesh
Pengungsi Rohingya berada di tempat penampungan di Teknaf, Bangladesh. (Foto: AFP)

Metrotvnews.com, Teknaf: Beberapa perahu berisi pengungsi Rohingya yang melarikan diri dari kekerasan di Myanmar disuruh berbalik arah oleh penjaga perbatasan Bangladesh, Senin 28 November. Padahal, oposisi di negara itu menyerukan agar pemerintah memberikan perlindungan terhadap minoritas Muslim Rohingya yang teraniaya.

Ribuan Rohingya asal negara bagian Rakhine telah membanjiri perbatasan Bangladesh sejak sepekan terakhir. Mereka meneriakkan klaim mengerikan mengenai pemerkosaan, penyiksaan, dan pembunuhan di tangan pasukan keamanan Myanmar.

Delapan perahu yang mencoba menyeberangi Sungai Naf dari Rakhine menuju Bangladesh selatan ditolak petugas. Sehari sebelumnya, enam perahu telah ditolak masuk. Penolakan disampaikan kepala penjaga keamanan di kota perbatasan Teknhaf, Kolonel Abuzar Al Zahid, kepada AFP.

"Penumpangnya, 12 sampai 13 orang Rohingya di masing-masing perahu," kata Zahid.

Otoritas Dhaka mengatakan ribuan pengungsi lainnya berkumpul di perbatasan, namun menolak seruan internasional yang mendesak untuk membiarkan mereka masuk. Bangladesh mengatakan mengapa komunitas internasional tidak lebih mendesak Myanmar untuk menghentikan warganya melarikan diri.

Dalam dua pekan terakhir, penjaga perbatasan Bangladesh telah mencegah lebih dari 1.000 orang Rohingya, termasuk banyak wanita dan anak-anak, memasuki negara itu dengan perahu.

Pemimpin oposisi utama Bangladesh, Khaleda Zia, pada Minggu bergabung dengan gerakan berbagai partai politik dan kelompok-kelompok Islam garis keras di negara mayoritas Muslim tersebut. Mereka menyerukan agar Rohingya diberi tempat perlindungan.


Pengungsi Rohingya yang lari dari Rakhine. (Foto: AFP)

Lari dari Rakhine

Setidaknya 30.000 orang telah mengungsi dari Rakhine, dan banyak yang telah mencoba mencapai Bangladesh selama satu bulan terakhir, meski patroli perbatasan tetap siaga. Petugas perbatasan terus menyelidiki apakah ada pengungsi baru di antara populasi pelarian Rohingya yang sudah hidup sejak lama di Bangladesh.

Samira Akhter mengatakan kepada AFP melalui telepon bahwa dia mencapai kamp pengungsi resmi di Bangladesh pada Senin, setelah melarikan diri dari desanya di negara bagian Rakhine dengan tiga anak dan 49 orang lain.

"Militer membunuh suami saya dan membakar rumah kami. Saya melarikan diri ke bukit bersama dengan tiga anak-anak dan tetangga saya. Kami bersembunyi di sana selama seminggu," kata Akhter, 27.

Dudu Mia, pemimpin Rohingya di kamp itu, ??mengatakan sedikitnya 1.338 telah masuk ke komunitasnya sejak pertengahan Oktober.

Kekerasan di Rakhine -- hunian bagi kelompok etnis tanpa-kewarganegaraan yang dibenci banyak mayoritas Buddha Myanmar -- telah melonjak sebulan lalu setelah pasukan keamanan dikerahkan ke daerah tersebut menyusul rangkaian serangan terhadap pos polisi yang dituding dilakukan gerilyawan lokal.

Seorang pejabat PBB mengatakan pada pekan lalu, Myanmar diduga terlibat "pembersihan etnis" Muslim Rohingya. Hal ini didasarkan atas laporan tentang pasukan pemerintah yang menembaki warga desa ketika mencoba melarikan diri.

Tapi pemerintah baru Myanmar, yang dipimpin pemenang Hadiah Nobel Perdamaian Aung San Suu Kyi, telah membantah semua tuduhan.


Aung San Suu Kyi. (Foto: AFP)


(WIL)